SPMB Surabaya Harus Inklusif, DPRD Minta Sistem Digital Ramah Orang Tua dan Pralansia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(yt:operatorsantri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Ketua Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, menyoroti pentingnya aksesibilitas dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ini. Ia menekankan bahwa proses digitalisasi tidak boleh menjadi hambatan bagi masyarakat, terutama kelompok orang tua dan pralansia.
Digitalisasi yang Ramah Pengguna
Menurut Ajeng, platform pendaftaran daring harus dirancang dengan tampilan yang sederhana dan intuitif. Tujuannya adalah memastikan setiap wali murid dapat mengakses informasi tanpa kesulitan. “Website pendaftaran SPMB harus dikemas lebih ramah untuk orang tua, terutama bagi mereka yang masuk masa pralansia. Jangan sampai muncul disinformasi karena masyarakat kesulitan memahami alur sistem,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa tidak semua warga memiliki tingkat literasi digital yang sama. Sistem yang terlalu rumit dikhawatirkan justru menyebabkan kesalahan input data atau bahkan potensi hilangnya kesempatan anak untuk masuk sekolah.
Peningkatan Literasi Digital
Ajeng menilai bahwa perlu adanya program peningkatan literasi digital agar masyarakat lebih memahami mekanisme SPMB. Ia menyarankan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya untuk menggencarkan simulasi pendaftaran sebelum hari-H pelaksanaan. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kesalahan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem.
Kesiapan SDM di Lini Pelayanan
Selain infrastruktur digital, ia juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia (SDM) di lini pelayanan. Platform yang canggih tidak akan berjalan optimal tanpa adanya ruang pengaduan dan pendampingan yang responsif.
Langkah Konkret untuk Kepuasan Masyarakat
Ajeng mengajak Dispendik Surabaya untuk bekerja sama dengan komunitas lokal dan organisasi masyarakat dalam memastikan bahwa sistem SPMB benar-benar inklusif. Ini termasuk memberikan bantuan teknis kepada warga yang kurang familiar dengan teknologi.
Tantangan dan Solusi
Dalam keterangannya, Ajeng menyatakan bahwa tantangan utama dalam SPMB adalah ketidaksetaraan akses terhadap teknologi. Namun, ia percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, sistem ini bisa menjadi sarana yang efektif dan adil bagi seluruh masyarakat.
SPMB di Surabaya perlu dihadirkan sebagai solusi yang tidak hanya efisien, tetapi juga ramah bagi semua kalangan. Dengan inovasi yang berkelanjutan dan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, sistem ini dapat menjadi contoh dalam pelayanan publik yang inklusif.***

>
>

Saat ini belum ada komentar