Kecurangan Akademik di Seleksi Masuk Perguruan Tinggi: Pengakuan Joki SNBT
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kasus kecurangan akademik dalam seleksi masuk perguruan tinggi kembali menjadi perhatian publik. Seorang pelaku joki UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) yang terlibat dalam SNBT 2026 di Surabaya mengungkapkan pengalamannya secara terbuka. Ia menjelaskan bagaimana ia mampu menyelesaikan soal ujian dengan cepat dan mendapatkan untung besar dari para peserta.
Strategi Sederhana untuk Menghadapi Ujian
Pelaku joki mengungkapkan bahwa strategi utamanya adalah mempelajari soal-soal latihan dari buku-buku khusus persiapan. Menurutnya, materi ujian tidak terlalu sulit jika sudah dipahami dengan baik. Ia menyebutkan bahwa belajar selama dua hingga tiga bulan cukup untuk menguasai seluruh materi yang diajarkan selama tiga tahun SMA.
“Sebenarnya relatif gampang sih,” kata pelaku dalam wawancara yang terekam dan viral di media sosial. Ia juga mengatakan bahwa ia hanya fokus pada tes matematika dan bahasa Inggris, yang menurutnya lebih mudah dibandingkan bidang lain.
Keuntungan Besar dari Kecurangan
Dari satu klien, pelaku joki bisa meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah. Bahkan, ada beberapa kasus di mana klien menawarkan dana hingga Rp 75 juta. Harga ini bervariasi tergantung kesulitan soal dan reputasi universitas yang dituju.
“Tergantung kesulitan dan universitas yang dirasa namanya lebih bagus, biasanya dibayar lebih mahal. Range-nya itu 20 sampai 30 juta. Kalau yang SNBT ini baru ditawarin Rp 75 juta,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa waktu bukanlah hambatan bagi dirinya. Dengan kemampuan mengerjakan soal secara cepat, ia mampu menyelesaikan ujian dalam waktu yang singkat.
Penyebaran Sindikat Joki di Wilayah Surabaya
Selain pelaku individu, penyidik menemukan adanya sindikat joki yang aktif di beberapa universitas ternama di Surabaya. Beberapa institusi seperti Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan UPN Veteran Jawa Timur menjadi tempat penyebaran kejahatan ini.
Meski demikian, pelaku joki mengklaim bahwa ia tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang kedokteran meskipun sebagian besar kliennya adalah calon mahasiswa jurusan kedokteran. Hal ini menunjukkan bahwa kecurangan tidak hanya terjadi di satu bidang tertentu, tetapi menyebar ke berbagai prodi.
Dampak Negatif dari Kecurangan Akademik
Kasus ini menimbulkan kekhawatiran tentang integritas pendidikan di Indonesia. Banyak pihak menilai bahwa kecurangan dalam ujian masuk perguruan tinggi dapat merusak sistem pendidikan dan menciptakan ketidakadilan antara siswa yang berjuang secara benar dan mereka yang menggunakan cara tidak sah.
Selain itu, pelaku kecurangan juga berisiko mendapat konsekuensi hukum. Tidak jarang, peserta yang tertangkap akan di-blacklist oleh kampus atau bahkan dipolisikan.
Masa Depan Pendidikan yang Lebih Transparan
Perlu adanya upaya lebih besar dari pihak berwenang dan lembaga pendidikan untuk memastikan transparansi dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. Edukasi kepada siswa tentang pentingnya integritas akademik juga harus ditingkatkan.
Pengakuan pelaku joki ini menjadi bukti bahwa kecurangan tidak hanya terjadi di level individu, tetapi juga melibatkan jaringan yang terstruktur. Dengan informasi ini, diharapkan masyarakat lebih waspada dan sadar akan risiko serta konsekuensi dari tindakan tidak etis dalam dunia pendidikan.***

>
>

Saat ini belum ada komentar