Perang di Lautan dan Kenaikan Harga Minyak, Trump: Murah untuk Hancurkan Ancaman Nuklir Iran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Minyak mentah global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir, dengan harga melebihi $110 per barel. Hal ini terjadi karena krisis di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak global. Tiga negara besar OPEC, yaitu Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), memutuskan untuk memangkas produksi minyak mereka karena kekhawatiran akan ancaman dari Iran.
Penyebab Pemangkasan Produksi
Salah satu alasan utama pemangkasan produksi adalah keterbatasan ruang penyimpanan. Para produsen minyak tidak mampu mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat ancaman serangan terhadap kapal tanker oleh Iran. Selain itu, ancaman tersebut juga membuat kapal-kapal tidak berani melewati jalur laut yang sempit tersebut. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia melalui Selat Hormuz, sehingga penutupannya memiliki dampak signifikan terhadap pasokan global.
Dampak pada Harga Minyak
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 26,5% atau $24 menjadi $114,9 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik 23% atau $21,56 menjadi $114,25 per barel. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam sejarah perdagangan futures minyak sejak 1983. Sebelumnya, harga minyak pernah melebihi $100 per barel setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Komentar Presiden Trump
Presiden Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social bahwa kenaikan harga minyak jangka pendek adalah “harga yang sangat kecil” untuk menghancurkan ancaman nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya. Meskipun demikian, situasi di wilayah tersebut masih tetap tegang dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Persiapan Produksi Minyak di Kuwait
Kuwait, sebagai salah satu produsen minyak terbesar di OPEC, mengumumkan pemangkasan sementara produksi minyak dan pengolahan kilang pada hari Sabtu lalu. Alasannya adalah ancaman dari Iran terhadap keselamatan kapal yang melewati Selat Hormuz. Namun, perusahaan minyak milik negara Kuwait, Kuwait Petroleum Corporation, tidak memberikan rincian jumlah pemangkasan tersebut.
Penurunan Produksi di Irak
Produksi minyak di Irak, yang merupakan produsen minyak terbesar kedua di OPEC, telah turun drastis. Menurut tiga sumber industri, produksi dari tiga lapangan minyak utara Irak turun 70% menjadi 1,3 juta barel per hari. Sebelum perang, lapangan-lapangan ini memproduksi 4,3 juta barel per hari.
Pengaturan Produksi di UEA
Uni Emirat Arab, produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, mengatakan bahwa mereka sedang “mengelola tingkat produksi lepas pantai secara hati-hati untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan.” ADNOC, perusahaan minyak negara UEA, menyatakan bahwa operasi daratnya terus berjalan normal.
Komentar dari Menteri Energi AS
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz akan kembali normal setelah Amerika Serikat berhasil menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker. Ia mengklaim bahwa situasi saat ini belum pulih sepenuhnya, tetapi perkembangan positif akan segera terlihat dalam beberapa minggu mendatang.
Perspektif Ekonomi
Moody’s, lembaga pemeringkat kredit ternama, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akan berdampak pada inflasi. Kenaikan harga energi bisa meningkatkan biaya hidup dan mengganggu pertumbuhan ekonomi global. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan bank sentral di seluruh dunia.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar