Pengerahan Aset Strategis Australia di Timur Tengah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 9 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Australia telah mengambil langkah darurat dengan mengerahkan pesawat militer ke kawasan Timur Tengah untuk mengevakuasi ribuan warga negara mereka. Langkah ini dilakukan setelah eskalasi konflik besar yang terjadi pasca-serangan AS-Israel terhadap Iran, yang menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Konflik tersebut memicu perluasan situasi regional yang memperburuk kondisi keamanan.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi pengerahan aset militer ke kawasan tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Ia mengucapkan terima kasih kepada para warga Australia yang berada dalam situasi berbahaya untuk membantu sesama warga negara mereka. Pernyataan ini disampaikan kepada Parlemen pada Kamis (5/3/2026).
Armada Militer yang Dikerahkan
The Guardian mencatat bahwa armada yang dikerahkan mencakup C-17A Globemaster dari Royal Australian Air Force, yaitu pesawat angkut berat untuk logistik. Selain itu, KC-30A, pesawat tanker multi peran yang mampu mengangkut hingga 270 penumpang, juga ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan darurat pemerintah.
Saat ini, terdapat sekitar 115 ribu warga Australia di wilayah Timur Tengah, dengan 24 ribu di antaranya berada di Dubai yang mencakup ekspatriat dan penumpang transit. Meski aset militer telah disiagakan, pemerintah tetap memprioritaskan jalur komersial sebagai cara utama bagi warga Australia untuk kembali ke tanah air.
Albanese menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan negara-negara Teluk untuk mengamankan lebih banyak penerbangan agar warganya bisa pulang secepat mungkin. Hingga 5 Maret 2026, dua penerbangan komersial dari Dubai telah mendarat di Sydney dengan membawa ratusan penumpang. Sementara, dua penerbangan tambahan dijadwalkan menyusul dari UEA.
Tekanan Politik di Australia dan Situasi Keamanan
Di dalam negeri, Senator James Paterson mendesak transparansi penuh mengenai rincian penempatan militer tersebut. Ia mempertanyakan aset apa yang dikerahkan, ke negara mana, dan untuk tujuan apa. Hal ini merujuk pada keberhasilan evakuasi Afghanistan tahun 2021 sebagai acuan, guna mengerahkan personel militer ke wilayah tersebut.
“Jika ada aset militer Australia di wilayah itu, kapan mereka akan menerima warga Australia dan membawa mereka pulang?” tanya Paterson. Pernyataannya dikutip dari SBS News.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Penny Wong menegaskan bahwa Australia saat ini tidak mempertimbangkan pengiriman pasukan untuk terlibat langsung dalam konflik. Di sisi lain, Wong mengatakan ia sangat prihatin dengan konflik tersebut yang telah menyebar dengan sangat cepat. Ia mengakui bahwa intensitas serangan balasan Teheran berada di luar antisipasi global.

Serangan Iran yang Menyasar 11 Negara
Sebelumnya, Canberra telah mendukung upaya untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, dan dari Iran yang diklaim terus menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan global. Pihaknya juga mengecam tindakan serangan balasan Iran karena menyerang negara-negara tetangganya, termasuk mereka yang tidak terlibat.
Perang yang meletus pada 28 Februari 2026 tersebut telah mengganggu lalu lintas udara internasional. Dilaporkan, Iran kini telah melancarkan serangan ke 11 negara sebagai balasan. Sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Iran ke arah wilayah udara Turki berhasil dicegat dan dinetralisir oleh unit pertahanan udara dan rudal NATO di Mediterania Timur pada Rabu (4/3/2026).
Menurut Kementerian Pertahanan Nasional Turki, proyektil tersebut yang terdeteksi setelah melewati Irak dan Suriah, berhasil dihalau oleh pertahanan udara. Pecahan yang jatuh di distrik Dortyol di provinsi Hatay selatan merupakan bagian dari rudal pencegat yang digunakan untuk menghancurkan ancaman tersebut, menurut Anadolu Agency. ***


>
>
>

Saat ini belum ada komentar