Gunung Semeru Kembali Erupsi dengan Tinggi Letusan 800 Meter
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Kamis (19/2/2026). Letusan kali ini mencapai ketinggian sekitar 800 meter di atas puncak atau setinggi 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menjelaskan bahwa erupsi terjadi pada pukul 08.00 WIB. Kolom abu yang teramati memiliki warna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 101 detik.
Sebelumnya, Gunung Semeru juga mengalami dua kali erupsi sebelumnya. Erupsi pertama terjadi pada pukul 04.32 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak atau 4.176 mdpl. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 106 detik.
Erupsi kedua terjadi pada pukul 07.24 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati 500 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 92 detik.
Rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Berdasarkan data aktivitas vulkanik, Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga). Oleh karena itu, PVMBG memberikan beberapa rekomendasi untuk keselamatan masyarakat. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Dampak Erupsi terhadap Aktivitas Sehari-hari
Hingga saat ini, belum ada dampak erupsi Gunung Semeru terhadap penerbangan di Bandara Ngurah Rai. Namun, masyarakat di sekitar daerah Gunung Semeru tetap diimbau untuk memperhatikan ancaman bencana alam yang bisa terjadi akibat aktivitas vulkanik.
Rekam Jejak Erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru telah mengalami beberapa kali erupsi dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa catatan penting antara lain:
- 30 Januari 2026: Gunung Semeru kembali erupsi dengan tinggi letusan 1 kilometer.
- 19 Januari 2026: Semeru enam kali erupsi dengan tinggi letusan hingga 1 kilometer.
- 12 Januari 2026: Gunung Semeru empat kali erupsi pada pagi ini.
- 20 November 2025: Bandara Ngurah Rai melaporkan belum ada dampak erupsi Semeru ke penerbangan.
- 19 November 2025: Badan Geologi menaikkan status Gunung Semeru menjadi Awas.
- 17 Juli 2025: Semeru dua kali erupsi, letusannya hingga 1.000 meter.
- 11 Juli 2025: Gunung Semeru erupsi lagi, letusannya setinggi 700 meter.
- 28 Juni 2025: Banjir lahar hujan Gunung Semeru tercatat selama 5 jam lebih.
Peran Penting dalam Mitigasi Bencana
Kehadiran Gunung Semeru sebagai salah satu gunung berapi aktif di Indonesia menuntut kewaspadaan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi risiko bencana alam. Selain itu, upaya mitigasi seperti pengawasan intensif, edukasi masyarakat, dan pengembangan sistem peringatan dini sangat penting untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar