Pencarian Korban Bencana Alam Anggota TNI AL Longsor Cisarua, Memasuki Hari Kedua
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Bencana tanah longsor yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, telah memicu operasi pencarian dan evakuasi yang melibatkan sejumlah besar personel TNI AL. Dalam upaya mencari 19 prajurit Marinir yang hilang akibat bencana tersebut, pihak militer mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk anjing pelacak, teknologi drone, dan alat berat.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Tunggul, mengatakan bahwa sebanyak 200 personel Marinir dikerahkan dalam operasi hari ini. Ia juga menegaskan penggunaan teknologi seperti drone dan alat deteksi suhu untuk mempercepat proses pencarian.
“Kami menerjunkan sebanyak 200 personel Marinir, dengan menggunakan teknologi drone, termal, dan anjing pelacak,” ujar Tunggul.
Evakuasi Korban yang Masih Terjebak
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menyampaikan bahwa sebanyak 23 anggota Marinir menjadi korban longsor. Dari jumlah tersebut, empat orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara sisanya masih dalam pencarian.
Ali menjelaskan bahwa para prajurit itu sedang menjalani latihan di lokasi kejadian sebagai persiapan penugasan pengamanan wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Kejadian longsor terjadi saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama dua hari berturut-turut.
“Longsor terjadi karena curah hujan tinggi, dan hal ini menimpa penduduk satu desa serta kebetulan ada prajurit kita yang sedang berlatih di sana,” jelas Ali.
Proses Pemulihan dan Perlindungan Keluarga Korban
Selain fokus pada pencarian korban, TNI AL juga menegaskan komitmennya dalam memberikan perlindungan dan dukungan kepada keluarga prajurit yang gugur. Tunggul menegaskan bahwa semua hak almarhum akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami memastikan bahwa seluruh hak almarhum dan keluarga akan dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta santunan maupun pendampingan akan terus diberikan,” tambah Tunggul.
Pihak TNI AL juga telah mengerahkan alat berat untuk membantu mempercepat proses evakuasi. Selain itu, tim DVI (Tim Identifikasi Jenazah) telah menerima 38 kantong jenazah dari korban longsor.
Peran Teknologi dalam Operasi Pencarian
Teknologi seperti drone dan alat deteksi suhu menjadi bagian penting dalam operasi pencarian. Drone digunakan untuk memetakan area yang sulit dijangkau, sementara alat termal membantu mendeteksi keberadaan korban yang terjebak di bawah tanah.
Selain itu, anjing pelacak juga ditempatkan untuk membantu menemukan jejak keberadaan korban. Tim pencari bekerja dalam kondisi yang sangat berat, mengingat cuaca buruk dan medan yang berbahaya.
Upaya Mencegah Bencana Serupa di Masa Depan
Meski fokus utama saat ini adalah pencarian dan evakuasi, TNI AL juga menyadari pentingnya langkah pencegahan untuk menghindari kejadian serupa di masa depan.
Ali menyatakan bahwa pihaknya akan terus memantau kondisi daerah rawan longsor, terutama di wilayah-wilayah yang sering terkena dampak cuaca ekstrem.
“Kami akan meningkatkan kesiapsiagaan dan koordinasi dengan instansi terkait untuk meminimalkan risiko bencana alam,” katanya.

>

Saat ini belum ada komentar