Dampak Banjir Luapan Sungai di Situbondo: Infrastruktur Terancam dan Masyarakat Terisolasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PARLEMENTARIA.ID – Banjir yang terjadi di Kabupaten Situbondo pada Rabu, 21 Januari 2026, menjadi peristiwa yang menyebabkan kerusakan signifikan pada berbagai infrastruktur. Salah satu yang paling mencolok adalah lima jembatan yang rusak atau bahkan putus akibat terjangan air yang meluap dari sungai. Peristiwa ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas infrastruktur daerah.
Kerusakan Jembatan di Dua Kecamatan Berbeda
Dalam insiden ini, lima jembatan yang rusak terletak di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Besuki dan Kecamatan Jatibanteng. Di Kecamatan Besuki, dua jembatan mengalami kerusakan parah. Jembatan Limpas di Desa Jetis putus total, sementara Jembatan Randu di Desa Besuki mengalami ambruknya dinding penyangga. Sementara itu, di Kecamatan Jatibanteng, tiga jembatan mengalami kerusakan serupa. Dua di antaranya, yaitu Jembatan Limpas di Desa Wringinanom, putus sepenuhnya, sehingga membuat sebanyak 32 KK terisolasi.
Kerusakan pada jembatan di ruas jalan Desa/Kecamatan Jatibanteng terjadi pada bagian dua sayap penahan jembatan. Hal ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya menghancurkan struktur fisik, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.
Penanganan oleh Pemkab Situbondo
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Situbondo, Abdul Kadir Jailani, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan dan asesmen terhadap kerusakan infrastruktur. Menurutnya, ada lima jembatan yang mengalami kerusakan berat, termasuk beberapa yang putus total.
“Kita segera lakukan perbaikan, terutama jembatan yang putus total. Juga mencari solusi dan alternatif agar jembatan rusak tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat,” ujar Abdul Kadir.
Ia menegaskan bahwa meskipun proses perbaikan harus sesuai dengan mekanisme dan aturan yang berlaku, pihaknya akan secepatnya melakukan perbaikan semua jembatan yang rusak. “Ini penting agar aktivitas masyarakat normal kembali,” tambahnya.
Dampak pada Masyarakat
Selain merusak infrastruktur, banjir juga menyebabkan ribuan rumah terendam di sembilan desa yang tersebar di lima kecamatan. Banyak warga terpaksa meninggalkan rumah mereka sementara waktu, sementara beberapa lainnya mengalami kesulitan dalam akses ke fasilitas umum.
Perlu diketahui bahwa banjir ini terjadi setelah empat hari berturut-turut diguyur hujan deras. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah Situbondo sangat rentan terhadap bencana alam, terutama jika curah hujan tinggi dan sistem drainase tidak optimal.
Tantangan dan Solusi Jangka Panjang
Meski pemerintah setempat berkomitmen untuk segera memperbaiki kerusakan infrastruktur, tantangan tetap ada. Biaya perbaikan diperkirakan mencapai lebih dari tiga miliar rupiah, yang tentu saja memberatkan anggaran daerah. Oleh karena itu, diperlukan strategi jangka panjang untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memperkuat sistem drainase dan memastikan bahwa jembatan-jembatan yang ada dirancang untuk menahan tekanan air yang tinggi. Selain itu, masyarakat juga perlu diberikan edukasi tentang cara menghadapi bencana alam, terutama saat musim hujan.
Banjir luapan sungai di Situbondo menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman bencana alam. Dengan kerusakan infrastruktur yang signifikan, seperti lima jembatan yang rusak atau putus, penting bagi pihak terkait untuk segera melakukan tindakan darurat dan rencana jangka panjang. Hanya dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, daerah ini dapat lebih siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.***

>

Saat ini belum ada komentar