Lonjakan Bitcoin Sentimen Pasar Kripto Menguat Akibat Data Inflasi AS yang Stabil
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Harga koin digital utama, Bitcoin (BTC), mengalami penguatan signifikan dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan terbaru, harga BTC sempat mencapai level US$ 96.232 atau setara dengan Rp 1,62 miliar berdasarkan asumsi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini didorong oleh sentimen positif dari data inflasi AS yang menunjukkan penurunan tekanan inflasi.
Pengumuman Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember memberikan sinyal bahwa inflasi inti di negara tersebut lebih terkendali. CPI AS naik sebesar 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sedangkan inflasi inti hanya meningkat 0,2% bulanan dan 2,6% tahunan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat.
Dampak Positif pada Aset Berisiko
Kondisi inflasi yang stabil memberikan dampak positif bagi aset berisiko seperti kripto. Selain Bitcoin, Ethereum (ETH) juga mengalami kenaikan harga sebesar 6,92%, dengan harga saat ini berada di level US$ 3.305 atau sekitar Rp 55,88 juta.
Pergerakan harga ini tidak hanya dipengaruhi oleh data inflasi, tetapi juga oleh perubahan regulasi di AS. Draft Rancangan Undang-Undang Digital Asset Market CLARITY Act memberikan kejelasan tentang klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas. Aturan ini juga memberikan wewenang lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar kripto.
Analisis Teknis dan Peluang Harga Bitcoin
Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, harga Bitcoin telah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Ia menyatakan bahwa BTC masih memiliki peluang untuk menguat ke level US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar jika mampu bertahan di atas level support pada US$ 94.000.
“Penembusan area US$ 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$ 100.000 tetap terbuka,” jelas Fyqieh.
Arus Dana Institusional dan Volatilitas Pasar
Arus dana institusional juga menjadi faktor penting dalam pergerakan harga Bitcoin. Saat ini, arus dana institusi di ETF Bitcoin spot AS tercatat lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.
Namun, Fyqieh menekankan bahwa investor perlu waspada terhadap volatilitas pasar. Jika harga Bitcoin melemah di bawah US$ 100.000, pasar kemungkinan akan mengalami aksi ambil untung. Karenanya, ia menyarankan agar investor lebih peka terhadap pergerakan harga dan berita terkini.
“Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar US$ 100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” pungkasnya.***

>

Saat ini belum ada komentar