Penggunaan SAL untuk Menjaga Kestabilan APBN 2025 Rp 85,6 Triliun, Kemenkeu Jamin Defisit Tidak Tambah Utang Baru
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 23 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk memastikan kestabilan anggaran negara pada tahun 2025. Dalam rangka menutupi defisit APBN, pemerintah menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 85,6 triliun. Langkah ini dilakukan untuk mencegah peningkatan utang baru yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi jangka panjang.
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, menjelaskan bahwa defisit APBN 2025 diperkirakan melebar menjadi 2,78% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dari target awal sebesar 2,53%. Meskipun demikian, penggunaan SAL diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan utang.
“Sehingga sampai saat ini pengadaan pembiayaan utang masih on track untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN tahun anggaran 2025,” ujar Suminto dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Desember.
Strategi Pembiayaan Utang yang Beragam
Selain SAL, pemerintah juga memiliki berbagai instrumen pembiayaan utang yang dapat digunakan. Instrumen tersebut mencakup Surat Perbendaharaan Negara (SPN) hingga pinjaman, baik melalui mekanisme lelang reguler maupun non-lelang. Dengan diversifikasi ini, pemerintah dapat lebih fleksibel dalam mengelola anggaran negara.
Lelang reguler Surat Utang Negara (SUN) terakhir pada tahun ini telah dilaksanakan pada Selasa, 17 Desember. Namun, pemerintah masih memiliki beberapa strategi lain untuk tahun 2025. “Masih ada beberapa pengadaan utang yang dilakukan pemerintah, termasuk project financing,” jelas Suminto.
Penyesuaian Pinjaman untuk Proyek Infrastruktur
Suminto menjelaskan bahwa penarikan pinjaman untuk pembiayaan proyek akan disesuaikan dengan perkembangan pelaksanaan proyek dan termin yang telah ditetapkan. Selain itu, pemerintah juga masih memiliki pinjaman program yang penarikannya dilakukan secara terjadwal hingga akhir tahun.
Pengelolaan pinjaman ini diharapkan dapat mendukung pembangunan infrastruktur tanpa mengganggu keseimbangan fiskal negara. Dengan pendekatan yang terencana dan terukur, pemerintah berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sambil tetap memperhatikan keberlanjutan keuangan negara. ***

>
>
>
Saat ini belum ada komentar