DIAGRAMKOTA.COM – Dalam dunia perfilman yang terus bertransformasi, film-film tentang teknologi dan kekuasaan digital kini menjadi sorotan utama. Salah satunya adalah The Social Reckoning, sebuah drama investigatif yang hadir sebagai “saudara” dari The Social Network—film ikonik tahun 2011 yang menggambarkan awal mula Facebook melalui sudut pandang dramatis dan penuh ketegangan. Namun, meskipun diharapkan bisa menciptakan dampak serupa, The Social Reckoning justru menunjukkan kesulitan besar dalam menyampaikan pesan penting secara emosional dan naratif.
Film ini mengambil fokus pada kisah nyata Frances Haugen, mantan karyawan Meta (perusahaan induk Facebook) yang memilih untuk membocorkan dokumen internal kepada The Wall Street Journal. Melalui bocoran tersebut, publik tahu bahwa Meta telah menyadari dampak negatif platformnya—terutama Instagram—terhadap kesehatan mental pengguna, terutama remaja putri. Konten berbahaya, termasuk gambaran tentang gangguan makan dan kecemasan, sengaja diprioritaskan karena meningkatkan waktu interaksi pengguna, yang secara langsung mendukung pendapatan perusahaan.
Dari Drama Fiksi ke Dokumenter Nyata: Perubahan Gaya Naratif yang Menyedihkan
Berbeda dengan The Social Network yang dibangun atas konflik personal, ambisi brutal, dan dialog cepat ala Aaron Sorkin, The Social Reckoning lebih mirip dokumenter fiksi. Alur ceritanya datar, tanpa karakter yang benar-benar hidup. Meski Mickey Madison membawakan peran Haugen dengan intensitas tinggi, tokoh-tokoh lain—termasuk Jeff Horwitz (Jeremy Allen White), wartawan yang menerima bocoran—tampil seperti wajah tanpa jiwa. Mereka bukan tokoh yang berkembang, melainkan agen informasi yang menyampaikan fakta satu per satu.
Sementara itu, Jeremy Strong—yang sebelumnya dikenal lewat Succession—menggantikan Jesse Eisenberg dalam peran sentral yang tidak ada dalam film ini. Ini menandai pergeseran besar: dari fokus pada sosok Mark Zuckerberg sebagai pusat cerita, ke arah sistem dan struktur korporasi yang lebih luas. Namun, tanpa kehadiran figur yang kompleks seperti Zuckerberg atau Eduardo Saverin, film ini kehilangan daya tarik dramatis yang membuat penonton terpaku.
Ketidakseimbangan antara Isu Penting dan Penyampaian Lemah
Masalah utama The Social Reckoning bukan pada isu yang dibahas—justru sangat relevan dan mendesak. Di era digital saat ini, pertanyaan tentang tanggung jawab perusahaan teknologi, privasi data, dan dampak psikologis media sosial menjadi topik global. Film ini menyentuh hal-hal krusial: Meta tahu bahaya konten berbahaya, namun tetap membiarkannya muncul demi keuntungan; regulator gagal menindak; dan publik tetap buta terhadap mekanisme di balik layar.
Namun, sayangnya, penyampaian isu-isu ini dilakukan tanpa ritme yang menarik, tanpa konflik yang membangkitkan emosi, dan tanpa momen-momen puncak yang menggetarkan. Dialog-dialog Sorkin yang biasanya tajam dan penuh tekanan justru terasa kering dan repetitif. Tidak ada adegan yang membuat penonton merasa gelisah, marah, atau terinspirasi—hanya rasa bosan dan sedikit kekecewaan.
Apakah Film Hanya Bisa Jadi Cermin Sosial?
Ketika sebuah film memiliki misi besar—seperti membangkitkan kesadaran publik terhadap manipulasi digital—namun gagal menyampaikannya secara artistik, maka ia gagal pada tujuan utamanya. The Social Reckoning berusaha menjadi cermin yang mencerminkan kebobrokan sistem, tapi hasil akhirnya justru terasa seperti presentasi PowerPoint yang terlalu panjang.
Bagi mereka yang peduli pada isu keamanan digital, film ini mungkin berguna sebagai bahan referensi. Namun bagi penonton umum, film ini akan terasa seperti hamparan fakta tanpa emosi. Tidak ada hero, tidak ada villain, hanya proses yang berulang-ulang: “Ini terjadi. Ini salah. Tapi tidak ada yang bertanggung jawab.”
Kesimpulan: Sebuah Karya dengan Potensi Besar, Tapi Gagal Memanfaatkannya
The Social Reckoning adalah film yang lahir dari kebutuhan akan kritik terhadap kekuasaan teknologi. Namun, kegagalan dalam membangun narasi yang kuat, karakter yang mendalam, dan ritme yang menarik, membuatnya menjadi proyek yang terlalu berambisi tanpa cukup alat untuk mewujudkannya.
Di tengah dunia yang semakin membutuhkan cerita-cerita kuat tentang kekuasaan dan etika digital, film ini menjadi peringatan: pentingnya tidak hanya menyampaikan fakta, tapi juga menyentuh hati. Tanpa itu, bahkan pesan terpenting pun bisa terdengar seperti bisikan yang tak terdengar.


















