DIAGRAMKOTA.COM – Drama Korea terbaru berjudul Doctor X: Mafia in White yang tayang di SBS pada 2026 mendapat perhatian besar dari penonton, tak hanya karena jalan ceritanya yang intens, tetapi juga karena kehadiran Kim Ji Won sebagai pemeran utama. Namun, di tengah antusiasme tersebut, muncul ketegangan di kalangan penggemar: banyak dari mereka menolak hadirnya alur romantis dalam serial ini. Apa sebenarnya yang membuat fans begitu keras kepala soal tidak adanya kisah cinta?
1. Warisan Drama Jepang yang Tak Punya Romantisme
Poin utama penolakan bumbu romansa berasal dari sumber aslinya—dorama Jepang Doctor X (2012) yang dibintangi Ryoko Yonekura. Dalam versi aslinya, tokoh utama Michiko Daimon dikenal sebagai dokter bedah yang sangat profesional dan memegang prinsip ketat: tidak ada hubungan pribadi dengan rekan kerja, terutama di luar konteks medis. Seluruh interaksi dilakukan secara fokus, objektif, dan tanpa emosi yang mengganggu.
Ketika Doctor X: Mafia in White menjadi adaptasi, fans merasa bahwa menyelipkan kisah asmara akan melanggar filosofi dasar karakter Gye Su Jeong (Kim Ji Won), yang juga digambarkan sebagai sosok yang dingin, terfokus, dan menempatkan kehidupan pasien di atas segalanya. Bagi mereka, romansa justru akan mengaburkan esensi utama dari tokoh ini.
2. Fokus pada Profesionalisme dan Masa Lalu Dokter Tangguh
Penonton justru ingin lebih dalam mengeksplorasi dunia Gye Su Jeong sebagai dokter bedah bebas yang memiliki keahlian lintas spesialisasi—dari bedah jantung hingga neurosurgery—dengan kemampuan prediktif yang luar biasa. Mereka penasaran: bagaimana seorang dokter muda bisa mencapai level seperti itu? Apakah ada masa lalu gelap yang membentuknya? Ada kemungkinan plot twist besar di balik rekam jejaknya.
Alhasil, hadirnya kisah cinta justru dianggap sebagai gangguan yang mengalihkan perhatian dari hal-hal yang lebih penting: teknik operasi, tekanan psikologis, dan dinamika profesional yang kompleks. Penonton ingin melihat Gye Su Jeong bukan sebagai tokoh romantis, tapi sebagai legenda medis yang sedang dipertanyakan oleh sistem rumah sakit korup.
3. Kekaguman pada Dinamika Tim Dokter, Bukan Hubungan Asmara
Alih-alih romansa, fans justru menggandrungi hubungan kerja antara Gye Su Jeong dengan tim dokter pendukungnya. Karakter-karakter seperti Park Tae Gyeong (anak magang), Jo Won Jin (ahli anestesi), dan Kim Seong Jin (dokter UGD) menjadi sorotan utama karena kompaknya kerja sama mereka dalam menyelamatkan pasien, bahkan melawan aturan resmi.
Di versi Jepang, momen-momen seperti Hikaru Morimoto dan Hiromi Jonouchi yang berani melanggar perintah direktur demi menyelamatkan pasien menjadi ikonik. Mereka rela dikirim ke rumah sakit daerah karena keberanian mereka. Bahkan setelah keluar dari institusi pertama, mereka tetap menjadi tim yang saling percaya.
Fans pun berharap Doctor X: Mafia in White bisa meniru kekuatan dinamika tim ini—bukan hubungan cinta yang datang tiba-tiba. Mereka ingin melihat solidaritas, persahabatan profesional, dan loyalitas dalam misi menyelamatkan nyawa, bukan sekadar drama hati.
Dengan semua alasan ini, jelas bahwa penolakan terhadap romansa bukanlah bentuk kekecewaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap visi awal dari sebuah karya. Fans ingin Doctor X: Mafia in White tetap menjadi representasi dari kejayaan dokter-dokter hebat yang bertarung di balik layar, bukan di antara pelukan dan tatapan penuh perasaan.













