Intisari Berita (3 poin):
– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, pada Jumat (16/10/2026) malam.
– Petugas gabungan dari BPBD Jawa Timur dan TRC Kabupaten Pasuruan melakukan pemadaman secara manual di lokasi yang dapat dijangkau.
– Api masih berkobar di puncak Budug Asu, lereng Gunung Arjuno, dengan belum diketahui pasti luasan area terdampak dan penyebab kebakaran.
DIAGRAMKOTA.COM – Kawasan Gunung Arjuno-Welirang kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada malam hari, Jumat (16/10/2026). Kebakaran yang melanda daerah Ringgit, Pasuruan, serta puncak Budug Asu di lereng Gunung Arjuno, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, memicu penanganan darurat oleh tim gabungan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, memastikan bahwa personel Tim Reaksi Cepat (TRC) telah diberangkatkan untuk melakukan asesmen lapangan dan koordinasi dengan instansi terkait. “Personel BPBD Jawa Timur dan TRC PB BPBD Kabupaten Pasuruan sedang melakukan evaluasi situasi dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna mengoptimalkan upaya pemadaman,” ujar Gatot dalam keterangan resminya.
Upaya pemadaman dilakukan secara manual karena akses ke lokasi terbatas akibat kondisi medan yang sulit. Tim gabungan fokus pada titik-titik yang masih bisa dijangkau, sementara logistik seperti air dan peralatan pemadam dipastikan terus didistribusikan melalui operasi dropping oleh BPBD Kabupaten Pasuruan.
Hingga pukul 21.38 WIB, proses pemadaman masih berlangsung. Namun, belum ada data resmi mengenai luasan area yang terdampak atau penyebab pasti kebakaran. Petugas juga menyatakan bahwa api masih aktif di puncak Budug Asu, wilayah yang menjadi pusat perhatian karena potensi penyebaran asap ke area perkotaan.
Berdasarkan pantauan, kobaran api terlihat dari jarak jauh, bahkan teramati dari wilayah Sidoarjo. Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas dampak asap ke atmosfer lokal, terutama bagi masyarakat di sekitar kawasan pegunungan dan dataran rendah.
Dalam konteks lebih luas, kebakaran ini menambah catatan panjang kerentanan ekosistem Gunung Arjuno-Welirang terhadap karhutla. Sebelumnya, pada tahun 2025, kebakaran serupa di Tahura Raden Soerjo telah menghanguskan 642 hektare lahan, dengan Gunung Arjuno menjadi wilayah paling terdampak.
Langkah Darurat dan Koordinasi Antar-Lembaga
BPBD Jawa Timur menegaskan bahwa pendekatan koordinatif menjadi kunci dalam penanganan bencana alam ini. Selain melibatkan petugas lokal, pihaknya juga menjalin komunikasi intensif dengan instansi lain seperti TNI-Polri, dinas lingkungan hidup, dan satgas penanggulangan bencana kabupaten/kota.
“Kami terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi angin yang bisa memperparah penyebaran api. Semua langkah akan disesuaikan dengan dinamika lapangan,” tambah Gatot.
Tim gabungan juga mempertimbangkan penggunaan drone untuk pemantauan udara guna mendeteksi titik panas baru dan memetakan area yang sulit dijangkau. Namun, pengoperasian drone dibatasi oleh kondisi cuaca buruk dan kepadatan asap.
Dampak Lingkungan dan Masyarakat Sekitar
Kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang bukan hanya ancaman bagi flora dan fauna endemik, tetapi juga berpotensi merusak kualitas udara dan sumber air. Wilayah hulu yang terbakar berisiko mengalami erosi tanah dan penurunan kapasitas resapan air, yang dapat memicu banjir saat musim hujan tiba.
Masyarakat di desa-desa sekitar, termasuk Gunungrejo dan Pandaan, diminta waspada terhadap kabut asap dan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kesehatan pernapasan, terutama anak-anak dan lansia.
Catatan Penting: Apa yang Harus Diperhatikan?
- Lokasi Utama: Gunung Ringgit (Pasuruan), Puncak Budug Asu (Singosari, Malang)
- Status Operasional: Masih dalam proses pemadaman manual
- Sumber Data: BPBD Jawa Timur, TRC Kabupaten Pasuruan
- Masalah yang Belum Terpecahkan: Penyebab kebakaran belum diketahui; luasan terdampak belum terhitung
“Kami tidak bisa bertindak cepat jika tidak punya informasi akurat. Karena itu, kami terus mengumpulkan data dari lapangan agar respons kita tepat sasaran.”
— Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur














