Tata Elevasi Air, Strategi Baru Pemkot Surabaya Mengatasi Banjir di Wilayah Selatan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat upaya penanganan banjir yang sering terjadi di wilayah selatan. Kebijakan ini dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur dan terintegrasi, khususnya dalam hal pengelolaan sistem drainase dan penyesuaian elevasi saluran air. Langkah-langkah ini bertujuan agar aliran air dapat bergerak secara efektif menuju titik pembuangan.
Peninjauan Lapangan oleh Wali Kota Surabaya
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turun langsung ke lapangan untuk meninjau sejumlah titik rawan genangan. Dalam kunjungan tersebut, ia mengunjungi beberapa lokasi seperti Rumah Pompa Ahmad Yani, kawasan Gayungsari Barat, serta Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal. Selain itu, ia juga mengecek saluran di Jalan Raya Jemursari, Kendangsari, dan Tenggilis Mejoyo yang terhubung dengan sistem pompa utama.
Masalah Utama yang Dihadapi
Menurut Eri Cahyadi, masalah banjir di wilayah selatan Surabaya bukan hanya terletak pada kapasitas drainase, tetapi lebih pada lemahnya konektivitas antar saluran. Banyak jaringan drainase yang sudah tersedia, namun tidak saling terhubung secara optimal, sehingga air tertahan di beberapa titik.
“Yang kita lakukan adalah mengoreksi dan menghubungkan aliran air agar antarwilayah benar-benar terkoneksi,” ujar Eri Cahyadi.
Perbedaan Elevasi Saluran
Selain masalah konektivitas, perbedaan elevasi saluran menjadi tantangan lain dalam penanganan banjir. Dalam temuan lapangan, ditemukan bahwa ada sejumlah titik dengan ketinggian tidak seragam yang menyebabkan aliran air tidak bergerak semestinya. Akibatnya, satu wilayah tergenang sementara wilayah lain justru kering.
Contoh nyata dari fenomena ini adalah antara Dukuh Menanggal dan Gayungsari. Saluran di Menanggal relatif kering, sedangkan di Gayungsari masih terdapat genangan. Padahal, secara sistem, air seharusnya mengalir ke Menanggal untuk dipompa keluar.
“Semua saluran sebenarnya sudah ada, tetapi elevasinya tidak sama. Ini yang kita benahi agar aliran air menjadi lancar,” tegasnya.
Target Pemkot Surabaya dalam Penanganan Banjir
Pemkot Surabaya menargetkan penyelesaian masalah banjir di wilayah selatan pada tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, berbagai langkah disiapkan, mulai dari pembangunan rumah pompa baru, pengerukan saluran, hingga pembangunan storage air di titik yang tidak memungkinkan dilakukan pelebaran.
Beberapa lokasi yang akan dibangun rumah pompa baru antara lain kawasan Panjang Jiwo dan Medokan Semampir atau sekitar Gereja Bethany Nginden, yang selama ini dikenal sebagai titik langganan genangan saat hujan deras.
Perencanaan Aliran Air yang Lebih Efisien
Selain itu, pemetaan aliran air menjadi fokus utama dalam perencanaan. Pemkot bahkan mempertimbangkan perubahan arah aliran di beberapa titik, dengan konsekuensi penyesuaian elevasi dan posisi rumah pompa secara menyeluruh. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi sistem drainase dan mengurangi risiko banjir di wilayah yang rentan.
Upaya Kolaboratif dalam Pengelolaan Banjir
Pemkot Surabaya tidak sendirian dalam upaya mengatasi banjir. Berbagai pihak, termasuk warga setempat dan organisasi masyarakat, turut berpartisipasi dalam program penanggulangan banjir. Keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam menjaga kebersihan saluran dan memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik.
Dengan strategi yang lebih terukur dan kolaborasi yang kuat, Pemkot Surabaya berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi warganya, khususnya di wilayah yang sering terkena dampak banjir.***

>

Saat ini belum ada komentar