Garingan Meimura di UNIM Mojokerto Angkat Kembali Kearifan Lokal dan Kritik Sosial
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 48 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Pementasan Ludruk Garingan atau Besutan yang digelar oleh seniman Meimura di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto, Kamis (7/5), menghadirkan refleksi mendalam tentang kearifan lokal yang mulai tergerus modernitas.
Mengusung tema “Batu-batu Bersuara”, pertunjukan ini mengajak penonton mendengar kembali suara tradisi, desa, dan nilai-nilai budaya yang kerap terabaikan.
Sementara tema “Jajah Deso Milangkori” menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan akar budaya sebagai identitas bangsa.
Dekan FKIP UNIM Mojokerto, Dr. Wawan Hermawan, MPd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga ruang edukasi dan penyadaran budaya bagi generasi muda.
“Budaya adalah bagian dari pendidikan yang membentuk karakter dan kesadaran sosial,” ujarnya.
Pementasan ini turut melibatkan mahasiswa UNIM serta komunitas seni lokal, dengan format ludruk tanpa iringan gamelan yang tetap menonjolkan kreativitas pertunjukan.
Dalam salah satu adegan, isu lingkungan diangkat melalui kisah penambangan batu dan pasir yang memicu dialog kritis tentang kerusakan alam.
Uniknya, pementasan juga melibatkan penonton secara langsung ke atas panggung, termasuk Dekan FKIP UNIM, yang diajak memberikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menaati hukum.
Sebelum pertunjukan utama, acara diawali dengan monolog dari UKM Teater Damar UNIM yang menambah nuansa reflektif pada kegiatan tersebut.
Seniman Meimura menegaskan bahwa ludruk tidak harus bergantung pada panggung besar atau iringan lengkap, tetapi tetap bisa hidup melalui kreativitas dan interaksi dengan masyarakat.
“Ludruk adalah seni rakyat yang bisa hadir di mana saja dan tetap menyampaikan pesan sosial,” ungkapnya.
Dalam diskusi usai pementasan, Ki Bagong Sinukarto menilai ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan media perlawanan budaya yang sarat nilai sejarah dan kritik sosial.
Sementara Akhmad Fatoni menyoroti bagaimana simbol-simbol budaya sering digunakan dalam kehidupan modern tanpa memahami makna filosofisnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Jajah Deso Milangkori” yang didukung Dana Indonesiana, sebagai upaya pelestarian seni tradisi di ruang publik.
Melalui pementasan ini, Meimura dan para pendukungnya menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan energi hidup yang harus terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Dk/yud)
- Penulis: Teguh Priyono

>
>
