Eri Cahyadi: Mendongeng Kembali Jadi Solusi untuk Mengurangi Kecanduan Gawai di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak para orang tua untuk kembali membangkitkan tradisi mendongeng sebagai strategi efektif dalam membatasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Inisiatif ini dilakukan dalam acara CERIA (Cerita Ayah Eri dan Bunda Rini itu Asyik) yang berlangsung di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA), Selasa 12 Mei 2026.
Acara yang dihadiri oleh Bunda Literasi Surabaya, Rini Indriyani, serta jajaran Kepala Perangkat Daerah (PD) ini melibatkan sekitar 300 keluarga muda atau pasangan suami istri (pasutri) baru di Kota Pahlawan.
Mendongeng sebagai Alat Edukasi dan Kedekatan Emosional
Eri menekankan bahwa mendongeng bukan hanya aktivitas pengantar tidur, tetapi juga alat edukasi yang kuat untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Ia menyatakan bahwa melalui cerita, pesan-pesan moral dapat lebih mudah diterima oleh anak dibandingkan instruksi langsung.
“Dengan mendongeng, tercipta kedekatan fisik dan batin. Pesan-pesan moral juga lebih mudah meresap ke dalam ingatan anak-anak melalui cerita dibandingkan melalui instruksi langsung,” ujarnya.
Kecemasan terhadap Penggunaan Gawai Berlebihan
Ia mengungkapkan keprihatinan terhadap tren saat ini, di mana banyak orang tua cenderung memberikan gawai sebagai solusi instan untuk menenangkan anak. Menurutnya, pola asuh seperti ini justru menjauhkan anak dari nilai-nilai karakter dasar yang seharusnya ditanamkan sejak usia PAUD hingga SD.
Dongeng sebagai Pelestarian Budaya Lokal
Selain isu literasi digital, walikota menyoroti pentingnya dongeng sebagai media pelestarian budaya. Ia mencemaskan fenomena anak-anak zaman sekarang yang lebih akrab dengan budaya luar negeri ketimbang akar budaya mereka sendiri.
“Anak-anak sekarang banyak tidak mengerti cerita lokal atau budaya sendiri, tapi sangat paham budaya luar. Ini bisa memicu gesekan budaya di masa depan. Mengenal budaya global itu boleh, tapi budaya lokal jangan sampai hilang,” tuturnya.
Langkah Konkret dari Pemerintah Kota Surabaya
Pemerintah Kota Surabaya tidak ingin gerakan ini berhenti pada seremoni belaka. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti arahan Wali Kota dengan menggelar lomba mendongeng yang melibatkan kolaborasi langsung antara orang tua dan anak.
Manfaat Mendongeng bagi Anak dan Keluarga
- Membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak.
- Meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui cerita yang penuh makna.
- Mempertahankan budaya lokal melalui cerita-cerita tradisional.
- Mengurangi ketergantungan anak pada gawai dengan aktivitas yang lebih interaktif dan edukatif.
Tips Praktis untuk Orang Tua
- Sediakan waktu rutin setiap hari untuk mendongeng bersama anak.
- Pilih cerita yang sesuai dengan usia dan minat anak.
- Libatkan anak dalam proses cerita dengan bertanya atau menggambar.
- Gunakan suara dan ekspresi yang menarik agar cerita lebih hidup.
Mendongeng tidak hanya menjadi cara menghibur anak, tetapi juga sarana efektif untuk membentuk karakter dan memperkuat ikatan keluarga. Dengan kembali menghidupkan tradisi ini, wali kota berharap dapat mengurangi kecanduan gawai dan menjaga nilai-nilai budaya lokal di kalangan generasi muda.***
- Penulis: Diagram Kota

>
>

Saat ini belum ada komentar