Dewan Kebudayaan Surabaya Didorong Aktifkan Seni di Akhir Pekan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan seni di Jawa Timur, kini tengah menghadapi tantangan untuk menjaga identitas budaya lokal. Salah satu langkah penting yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya adalah penyerahan Surat Keputusan (SK) Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pergerakan yang lebih aktif dalam melestarikan dan memperkuat budaya lokal.
Wali Kota Eri Cahyadi: Ruang Publik Harus Jadi Panggung Seniman
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa ruang publik milik Pemkot Surabaya tidak lagi dipungut biaya komersial jika digunakan oleh seniman dan budayawan lokal. Hal ini bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai bentuk ekspresi seni dan budaya.
“Balai Budaya jangan disewakan komersial jika yang tampil teman-teman seniman dan budayawan Surabaya. Cukup jaga kebersihan,” ujar Eri dalam keterangannya.
Menurutnya, ruang-ruang seperti Balai Pemuda, Balai Kota, taman kota hingga Surabaya Expo Center (SUBEC) harus menjadi panggung terbuka bagi kreativitas warga. Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali aktivitas seni setiap akhir pekan agar bisa menjadi bagian dari rutinitas masyarakat.
Eri Minta Pertunjukan Budaya Rutin Setiap Akhir Pekan
Eri menyampaikan harapan bahwa Dewan Kebudayaan Surabaya segera bergerak cepat dengan menghadirkan pertunjukan seni rutin setiap akhir pekan. Ia menegaskan bahwa mulai minggu depan, Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu malam sudah ada tampilan budaya.
Langkah ini diharapkan dapat membantu generasi muda untuk tetap merasa dekat dengan budaya lokal seperti Ludruk, Tari Remo, dan gaya lawakan khas Srimulat.
Kolaborasi Budaya Tradisional dengan Tren Kekinian
Eri juga mendorong kolaborasi antara seni tradisional dengan tren kekinian agar lebih menarik bagi generasi muda. Contohnya, ia mencontohkan Ludruk dan parikan khas Surabaya yang bisa dikemas bersama konsep stand up comedy.
“Kalau stand up comedy digabung dengan perludrukan ala Cak Kartolo, itu bisa jadi sangat menarik,” katanya.
Dewan Kebudayaan Surabaya akan Memetakan Potensi Budaya
Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029 dipimpin oleh Heti Palestina Yunani. Heti menyatakan bahwa langkah awal yang akan dilakukan adalah memetakan seluruh potensi budaya Surabaya, tidak hanya kesenian tetapi juga ritus, adat istiadat, permainan rakyat, hingga teknologi tradisional.
“Kami ingin gerak Dewan Kebudayaan dirasakan langsung warga sampai tingkat kelurahan, bukan hanya kalangan seniman,” ujarnya.
Heti juga menekankan pentingnya regenerasi seniman. Para seniman senior diharapkan tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga menjadi mentor bagi generasi muda melalui workshop hingga sekolah budaya.
Budaya Harus Lestari Melalui Kolaborasi dan Edukasi
Menurut Heti, budaya tidak akan lestari jika berhenti di satu generasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pengembangan budaya berbasis riset agar kebijakan yang diambil memiliki arah yang jelas dan sesuai perkembangan zaman.
Pemkot Surabaya berharap keberadaan Dewan Kebudayaan dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat identitas Arek Suroboyo sekaligus menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi kreatif di Kota Pahlawan.***
- Penulis: Diagram Kota

>
>

Saat ini belum ada komentar