Rini Indriyani: Peran Perempuan di Era Digital, Strategi Menjaga Keseimbangan dan Menghadapi Tekanan Sosial
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah perubahan yang cepat, khususnya dalam dunia digital, peran perempuan mengalami transformasi yang signifikan. Dari sekadar memperjuangkan akses ke pendidikan dan kesetaraan, kini tantangan terbesar bagi perempuan adalah menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan keluarga. Hal ini menjadi fokus utama dari berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya bersama TP PKK Surabaya.
Menciptakan Keseimbangan dalam Dunia yang Dinamis
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menekankan bahwa perempuan masa kini tidak lagi hanya berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga harus mampu memanfaatkan peluang tanpa kehilangan peran sebagai pilar keluarga. “Perjuangan Kartini hari ini bukan lagi soal membuka akses, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang tanpa kehilangan peran di dalam keluarga,” ujarnya.
Perempuan sekarang dihadapkan pada tuntutan untuk bisa berkembang secara profesional sambil tetap menjaga kesejahteraan keluarga. Ini membutuhkan strategi yang tepat agar tidak terjebak dalam tekanan yang berlebihan. Bunda Rini menilai bahwa keseimbangan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ini.
Tantangan di Era Digital dan Peran Orang Tua
Dunia digital telah merubah cara anak-anak tumbuh dan berkembang. Di masa lalu, orang tua hanya perlu khawatir tentang lingkungan fisik, tetapi sekarang, anak-anak juga terpapar oleh berbagai pengaruh dari internet. Perempuan, terutama ibu, harus lebih aktif dalam memahami dunia anak dan memastikan mereka menggunakan teknologi dengan bijak.
“Teknologi bisa membawa manfaat besar, tapi juga berisiko jika tidak diarahkan,” jelas Bunda Rini. Ia menegaskan bahwa perempuan harus menjadi tameng yang mengarahkan penggunaan teknologi, bukan hanya menutup akses. Pola komunikasi satu arah tidak lagi relevan, karena generasi saat ini lebih terbuka dan ekspresif. Oleh karena itu, ibu harus bisa menjadi teman bagi anak, bukan hanya sekadar aturan.
Menghadapi Fenomena FOMO dan Menjaga Jati Diri
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) juga menjadi isu penting yang harus dihadapi generasi muda. Tekanan untuk selalu mengikuti tren dapat membuat anak kehilangan jati diri. “Setiap anak punya potensi berbeda. Jangan memaksakan diri mengikuti orang lain. Justru keunggulan muncul ketika seseorang mengenali dan mengembangkan dirinya sendiri,” tegas Bunda Rini.
Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki nilai dan kemampuan unik yang harus ditemukan dan dikembangkan. Jangan sampai anak-anak terjebak dalam tekanan sosial yang membuat mereka kehilangan identitas diri.
Kesehatan Mental dan Fungsi Ibu dalam Keluarga
Selain tantangan di dunia digital dan FOMO, kesehatan mental juga menjadi perhatian utama. Di tengah tekanan kehidupan modern, menjaga kewarasan emosional sangat penting. Peran ibu dalam keluarga sangat menentukan arah tumbuh kembang anak. Stabilitas emosi dan kebahagiaan seorang ibu akan berdampak langsung pada pola asuh dan kondisi keluarga secara keseluruhan.
“Bunda adalah penopang keluarga. Kalau bunda sehat dan bahagia, keluarga juga akan ikut sehat,” ujar Bunda Rini. Ia menekankan bahwa peran ibu tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai fondasi kesuksesan seseorang. Sosok ibu hadir sejak awal, membentuk karakter dan nilai-nilai yang melekat hingga dewasa.
Peran Perempuan yang Lebih Kompleks dan Berarti
Peran perempuan di era modern semakin kompleks dan berarti. Dari sekadar memperjuangkan akses, kini mereka dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga, menghadapi tantangan digital, serta menjaga kesehatan mental. Inisiatif seperti yang dilakukan oleh TP PKK Surabaya dan Pemkot Surabaya menjadi langkah penting dalam mendukung perempuan menghadapi tantangan ini.
Dengan pendekatan yang tepat, perempuan dapat tetap menjadi pilar keluarga sekaligus individu yang berkembang. Mereka tidak hanya menjadi penerima peluang, tetapi juga aktor utama dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. ***

>

Saat ini belum ada komentar