Pergerakan Pasar Saham dan Kinerja Emiten di Tengah Penurunan IHSG
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Senin, 6 April 2026, mengalami penurunan sebesar 0,7% ke level 6.975 poin. Hal ini menjadi kelanjutan dari tren penurunan yang terjadi sebelumnya. Meskipun pasar secara keseluruhan sedang lesu, dua saham unggulan dari Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), menunjukkan kinerja positif yang mencolok.
Pada awal pekan, tepatnya pukul 10.38, kedua emiten ini berhasil menguatkan harga saham mereka. Kenaikan ini menunjukkan optimisme investor meskipun kondisi pasar sedang tidak stabil. Performa BUMI dan BNBR menarik perhatian pelaku pasar karena kenaikan harga yang signifikan.
BUMI berhasil mencapai titik tertingginya di level Rp250 setelah dibuka pada posisi Rp228. Nilai transaksi BUMI mencapai Rp944,7 miliar dalam waktu singkat pada 6 April 2026. Angka ini menempatkan BUMI di peringkat ke-27 dari total 957 perusahaan yang terdaftar di Indonesia, serta posisi keempat dalam industrinya.
Sementara itu, BNBR juga menunjukkan performa yang baik dengan kenaikan sebesar 4,76% ke posisi Rp110. Meskipun sempat menyentuh harga terendah Rp101 pada sesi awal, BNBR berhasil bangkit melampaui harga pembukaan di level Rp104. Performa ini menegaskan BNBR sebagai pemain kompetitif di sektornya, menduduki peringkat kedua dari lima perusahaan, dan berada di peringkat 103 secara keseluruhan di pasar modal.
Pergerakan Investor Asing dan Aktivitas Transaksi
Pada perdagangan Senin (6/4), investor asing di Bursa Efek Indonesia mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar 895,71 juta lembar, menurun dibandingkan hari bursa sebelumnya yang mencapai 1,62 miliar lembar. Volume transaksi asing menunjukkan peningkatan, dengan pembelian asing (foreign buy) naik dari 3,87 miliar menjadi 5,03 miliar lembar dan penjualan asing (foreign sell) meningkat dari 5,49 miliar menjadi 5,92 miliar lembar.
Beberapa saham yang mencatat net buy terbesar dari investor asing antara lain PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dengan 151,37 juta lembar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dengan 100,26 juta lembar, dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan 34,60 juta lembar. Selain itu, PT Bumi Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) juga mencatatkan net buy masing-masing 28,41 juta dan 18,16 juta lembar.
Di sisi lain, saham-saham yang mengalami net sell terbesar oleh investor asing adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan 632,21 juta lembar, diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan 273,78 juta lembar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell 105,62 juta lembar, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) masing-masing dengan net sell 77,08 juta dan 70,26 juta lembar.
Kondisi Makroekonomi dan Pengaruh Global
Pelemahan IHSG pada 6 April 2026 juga dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk kekhawatiran terkait potensi serangan militer di Timur Tengah. Di tingkat domestik, investor turut mempertimbangkan berita mengenai unit dana kekayaan negara Danantara yang menandatangani kesepakatan pada 1 April untuk mengakuisisi unit manajemen investasi bank milik negara Mandiri, BRI, dan BNI, bersama dengan PT Permodalan Nasional Madani, senilai IDR 2,7 triliun.
Data ekonomi juga menunjukkan bahwa momentum manufaktur melemah pada bulan Maret, dengan pembacaan PMI mendekati stagnasi karena permintaan yang melambat. Surplus perdagangan Februari menyempit akibat ekspor melambat dan impor meningkat. Meskipun demikian, keuntungan sempat terlihat di sektor siklikal, industri, dan energi.
Menurut model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis, Pasar Saham Indonesia (IHSG) diperkirakan akan diperdagangkan pada 6.599,55 poin pada akhir kuartal ini dan 6.136,83 dalam 12 bulan mendatang. Secara historis, IHSG pernah mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 9.174,47 pada Januari 2026.
Data Saham Unggulan pada 6 April 2026
| Emiten | Harga (Rp) | Perubahan Harian (Rp) | Persentase Perubahan Harian | Persentase Perubahan Tahun Berjalan | Kapitalisasi Pasar (B) |
|---|---|---|---|---|---|
| Bank Central Asia | 6.500,00 | -75,00 | -1.14% | -16.40% | 62.33 |
| Bank Rakyat Indo | 3.310,00 | -10,00 | -0.30% | -9.07% | 30.92 |
| Bank Mandiri | 4.610,00 | -40,00 | -0.86% | -1.28% | 26.03 |
| Bayan Resources | 10.025,00 | -625,00 | -5.87% | -49.56% | 24.87 |
| Telekomunikasi | 3.160,00 | 30,00 | 0.96% | 37.99% | 18.39 |
| Astra International | 6.100,00 | 25,00 | 0.41% | 36.16% | 13.85 |
| Bank Negara | 3.640,00 | -60,00 | -1.62% | -9.68% | 10.01 |
| United Tractors | 30.550,00 | -200,00 | -0.65% | 51.99% | 6.18 |
Beberapa data ekonomi penting yang dirilis adalah tingkat inflasi Indonesia sebesar 3,48% pada Maret 2026, suku bunga acuan 4,75% pada Maret 2026, dan tingkat pengangguran 4,85% pada September 2025.***

>
>
Saat ini belum ada komentar