Penanganan Banjir di Surabaya Selatan: Strategi Baru Pemkot untuk Mencegah Genangan Air
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, sebagai kota metropolitan yang terus berkembang, menghadapi tantangan besar dalam mengelola masalah banjir. Khususnya di wilayah Surabaya Selatan, banjir sering kali menjadi isu yang memengaruhi kenyamanan dan keamanan warga. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan rencana strategis berupa penataan ulang sistem drainase yang bertujuan mengalihkan aliran air secara lebih efisien.
Perubahan Sistem Drainase untuk Mengurangi Beban Wilayah
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pengalihan arus air dari sumber-sumber tertentu agar tidak menumpuk di area yang rentan. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di titik genangan saja. Ia menekankan pentingnya mengatur ulang catchment area agar beban air tidak terpusat di satu wilayah.
“Selama ini air menumpuk di Margorejo. Saya instruksikan agar aliran air dari arah Karah dan tol dipotong langsung masuk ke Rumah Pompa SWK Karah. Jangan semuanya lari ke Saluran Avur Wonorejo yang lewat Ketintang,” ujar Eri saat melakukan inspeksi mendadak di Jalan Ketintang Madya.
Dengan konsep ini, saluran di Margorejo hingga Prapen nantinya hanya akan menampung debit air dari pemukiman setempat, sehingga mengurangi risiko banjir akibat aliran yang terlalu besar.
Rekayasa Aliran Air untuk Menjaga Keseimbangan
Selain itu, Pemkot juga merancang pembalikan arus dari Ketintang Baru agar aliran air dialihkan menuju saluran Kebon Agung melalui kawasan Ahmad Yani. Langkah ini dirancang agar distribusi air lebih merata dan tidak mengganggu area yang sudah memiliki kapasitas drainase terbatas.
Eri menegaskan bahwa konsep penanganan banjir tidak boleh bersifat parsial. “Dengan begitu, saluran di Margorejo sampai Prapen nantinya benar-benar hanya menampung debit air dari pemukiman setempat,” tambahnya.
Target Penyelesaian dan Proses Implementasi
Skema pengalihan arus air ini ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Dalam prosesnya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) akan melakukan rekayasa aliran air sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Beberapa proyek pendukung juga sedang berlangsung, seperti pengerjaan di 30 titik drainase yang direncanakan selesai pada tahun yang sama. Hal ini menunjukkan komitmen Pemkot Surabaya dalam menjaga kualitas infrastruktur air yang mampu menghadapi kondisi iklim yang semakin tidak menentu.
Tantangan dan Kesiapan Masyarakat
Meski rencana ini cukup ambisius, beberapa tantangan tetap perlu dihadapi. Misalnya, koordinasi antara instansi terkait serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran. Eri menyadari bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran warga.
Upaya Komprehensif untuk Menciptakan Kota yang Lebih Aman
Selain penataan sistem drainase, Pemkot Surabaya juga terus mengembangkan inisiatif lain yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup warga. Salah satunya adalah pembangunan sistem satu data satu peta kesehatan berbasis digital, yang diharapkan bisa memberikan informasi akurat tentang potensi banjir dan daerah rawan.
Dengan kombinasi strategi teknis dan partisipasi masyarakat, Pemkot Surabaya berupaya menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh penduduk.***

>

Saat ini belum ada komentar