Persebaya Surabaya: Kekuatan Tapi Disiplin yang Mengkhawatirkan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Persebaya Surabaya, yang dikenal sebagai salah satu tim terkuat di Super League 2025/2026, kini menghadapi tantangan baru. Tim asuhan Bernardo Tavares ini mencatatkan rekor jumlah kartu merah yang cukup tinggi, menjadi nomor dua terbanyak di kompetisi tersebut. Angka ini menjadi alarm bagi pelatih asal Portugal tersebut.
Dalam 17 pertandingan putaran pertama, Persebaya Surabaya telah menerima total enam kartu merah. Rata-rata 0,35 kartu merah per laga. Angka ini hanya kalah dari Persijap Jepara, yang memimpin daftar tim dengan catatan disiplin terburuk. Meski begitu, keberhasilan Persebaya dalam menjaga posisi di papan atas klasemen sementara membuat situasi ini semakin menarik perhatian.
Rekor Kartu Merah dan Pemain Kunci
Sementara performa tim masih stabil, situasi ini menunjukkan adanya masalah disiplin yang harus segera diatasi. Salah satu pemain yang menjadi sorotan adalah Francisco Rivera, playmaker asal Meksiko. Ia menjadi poros serangan Persebaya dengan torehan empat gol dan lima assist dalam 13 pertandingan. Namun, produktivitasnya juga disertai dengan dua kartu merah, yang membuatnya masuk lima besar pemain dengan jumlah kartu merah terbanyak di putaran pertama.
Rivera tidak sendirian dalam hal ini. Ada beberapa pemain lain yang juga memiliki catatan disiplin yang sama, seperti Julian Guevara dari Arema FC, Sho Yamamoto dari Persis Solo, dan Luciano Guaycochea dari Persib Bandung. Bahkan Yann Motta dari Arema FC, yang hanya menerima satu kartu merah dalam lima pertandingan, juga menjadi perhatian karena kontribusinya dalam pertandingan.
Pengaruh Terhadap Strategi Pelatih
Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi Bernardo Tavares. Sebagai pelatih, ia harus menyeimbangkan antara mempertahankan performa kreatif dan dinamis tim dengan meningkatkan disiplin para pemain. Rivera, yang merupakan tulang punggung serangan, harus bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan di lapangan agar tidak terjebak dalam situasi yang bisa merugikan tim.
Tidak hanya itu, peran Rivera sebagai pengatur tempo permainan juga sangat penting. Dengan dua kartu merah yang ia terima, ada risiko bahwa ia akan absen dalam beberapa pertandingan mendatang, yang bisa memengaruhi strategi dan hasil Persebaya Surabaya di putaran kedua.
Tantangan di Putaran Kedua
Putaran kedua Super League 2025/2026 akan menjadi ujian berat bagi Persebaya Surabaya. Tim ini memiliki potensi untuk bersaing di papan atas, tetapi catatan disiplin yang tinggi bisa menjadi hambatan. Selain itu, perubahan formasi dan pemain yang mungkin terjadi juga bisa memengaruhi dinamika tim.
Bernardo Tavares perlu segera menemukan solusi untuk mengurangi jumlah kartu merah yang diterima oleh pemain. Ini bukan hanya tentang memperbaiki disiplin, tetapi juga tentang memastikan bahwa Persebaya Surabaya tetap bisa bersaing di level tertinggi tanpa mengorbankan kualitas permainan.
Kesimpulan
Persebaya Surabaya memang memiliki potensi besar untuk sukses di Super League 2025/2026. Namun, catatan disiplin yang tinggi menjadi isu serius yang harus segera diatasi. Dengan adanya pemain kunci seperti Francisco Rivera yang memiliki kontribusi signifikan, tetapi juga memiliki risiko disiplin, pelatih dan manajemen perlu segera bertindak. Hanya dengan keseimbangan yang tepat antara performa dan disiplin, Persebaya Surabaya bisa memenuhi ekspektasi dan menjadi juara di musim ini.***





Saat ini belum ada komentar