Perbedaan Pendekatan dalam Menentukan Awal Puasa Ramadan 2026 Muhammadiyah dan NU
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pendekatan berbeda antara organisasi Islam besar di Indonesia menjadi fokus utama dalam menentukan awal puasa Ramadan 2026. Dua lembaga yang terkemuka, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), memiliki metode perhitungan yang berbeda untuk menetapkan tanggal resmi bulan suci tersebut.
Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal oleh Muhammadiyah
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dalam menentukan awal Ramadhan. Metode ini memungkinkan pengambilan keputusan secara akurat dan jauh-jauh hari sebelum masa puasa dimulai. Berdasarkan data astronomis global dan validasi dari Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengumumkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Selain itu, Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 akan dirayakan pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini ditetapkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah setelah melalui peninjauan mendalam terhadap parameter KHGT.
Pendekatan Rukyatul Hilal oleh Kementerian Agama dan NU
Sementara itu, Kementerian Agama dan NU menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap bulan sabit. Proses ini melibatkan pengamatan di berbagai daerah di Indonesia untuk menentukan apakah bulan baru telah muncul atau belum. Hasil dari pengamatan ini kemudian dibahas dalam sidang isbat sebagai acuan resmi bagi masyarakat.
Perbedaan metode ini sering kali menyebabkan perbedaan tanggal awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah. Meski sama-sama menggunakan kalender Qomariyah, perbedaan pendekatan membuat hasilnya bisa berbeda. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam menentukan awal bulan suci secara nasional.
Implikasi bagi Umat Islam
Perbedaan tanggal awal puasa dapat memengaruhi persiapan ibadah umat Islam. Bagi mereka yang mengikuti panduan Muhammadiyah, puasa akan dimulai lebih awal dibandingkan dengan yang mengikuti metode rukyatul hilal. Namun, seluruh umat Islam tetap diharapkan untuk saling menghargai dan menjaga harmoni dalam menjalani ibadah.
Pentingnya Koordinasi dalam Penentuan Tanggal
Meskipun ada perbedaan metode, penting bagi seluruh komponen masyarakat untuk saling koordinasi dan memastikan kesiapan dalam menyambut Ramadan. Penentuan tanggal awal puasa bukan hanya tentang teknis perhitungan, tetapi juga bagian dari proses spiritual dan sosial yang melibatkan seluruh komunitas.
Awal puasa Ramadan 2026 menjadi topik yang sangat dinantikan oleh umat Islam di Indonesia. Meski terdapat perbedaan pendekatan antara Muhammadiyah dan NU, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memastikan keakuratan dan keselarasan dalam menjalankan ibadah. Dengan kerja sama dan komunikasi yang baik, semua pihak dapat mempersiapkan diri dengan optimal untuk menyambut bulan suci yang penuh makna.***

>

Saat ini belum ada komentar