Potensi Bencana Hidrometeorologi di Jawa Timur: Peringatan BPBD Ponorogo
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 7 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kabupaten Ponorogo, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang cukup serius. Berdasarkan data dan analisis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), wilayah ini termasuk dalam zona rawan tinggi terhadap longsor dan banjir. Hal ini disebabkan oleh kombinasi faktor alami seperti morfologi pegunungan vulkanik, struktur geologi aktif, serta batuan gunungapi yang rentan mengalami pelapukan.
Faktor Penyebab Kerentanan Bencana
Berdasarkan peta potensi gerakan tanah yang dikeluarkan PVMBG pada Desember 2025, sebagian besar wilayah Jawa Timur berada dalam kategori menengah hingga tinggi. Di antaranya, Ponorogo memiliki risiko tinggi terhadap longsor dan aliran bahan rombakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh lereng curam, DAS (Daerah Aliran Sungai) pendek, serta batuan yang sudah lapuk. Selain itu, peningkatan kepadatan permukiman di daerah lereng dan kawasan hulu juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya kerentanan.
“Kombinasi morfologi, geologi aktif, dan batuan lapuk memicu kerentanan sangat tinggi,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun. Ia menambahkan bahwa dalam rilis PVMBG, Ponorogo juga masuk dalam kategori zona rawan bencana.
Jenis Bencana yang Paling Mengancam
Dari lima jenis bencana prioritas di Ponorogo, longsor menjadi ancaman utama dengan persentase kasus mencapai 60 persen. Sejak Oktober hingga November 2025, tercatat 56 kejadian bencana, di mana 36 di antaranya adalah longsor. Wilayah timur dan selatan Ponorogo lebih rentan terhadap longsor karena perbedaan karakteristik geologis. Wilayah selatan cenderung memiliki dataran Karst, sedangkan wilayah timur lebih dominan pada dataran vulkanik tua yang telah mengalami pelapukan ekstensif.
“Longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung pada 2017 lalu memakan korban puluhan orang,” kenang Masun. Kejadian tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat setempat untuk tetap waspada terhadap ancaman bencana.
Upaya Mitigasi dan Pencegahan
BPBD Ponorogo telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana. Salah satunya adalah edukasi masyarakat tentang cara menghadapi cuaca ekstrem dan tindakan pencegahan. Selain itu, pihak BPBD juga melakukan penghijauan di daerah kritis dan memberikan himbauan kepada seluruh desa di kabupaten tersebut.
“Kami memetakan bagaimana antisipasinya,” tambah Masun. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan gerakan tanah Desember 2025, kawasan perbukitan selatan Ponorogo sangat rentan terhadap longsor besar maupun aliran bahan rombakan, terutama saat terjadi hujan ekstrem.
Ancaman Banjir Luapan DAS Solo
Selain longsor, Ponorogo juga rawan terhadap banjir luapan DAS Solo jika curah hujan melebihi 100 mm. Hal ini menunjukkan bahwa skenario bencana ekstrem sangat mungkin terjadi di wilayah ini. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk terus memantau kondisi cuaca dan siaga terhadap kemungkinan bencana. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar