NVIDIA dan AMD Kembali Tembus Pasar Tiongkok, Chip Ai Jadi Medan Baru Tarik-Menarik Kekuasaan Teknologi Global
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 26 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM — Kembalinya NVIDIA dan Advanced Micro Devices (AMD) ke pasar Tiongkok bukan sekadar kabar bisnis semikonduktor. Di balik keputusan itu, tersaji lanskap baru persaingan kekuasaan teknologi global, ketika chip kecerdasan buatan (AI) berubah menjadi instrumen strategis dalam relasi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang semakin kompleks.
Setelah hampir dua tahun terhambat oleh pembatasan ekspor akibat eskalasi ketegangan geopolitik, dua raksasa chip asal AS tersebut kini kembali menawarkan produk AI berdaya komputasi lebih tinggi ke Tiongkok. Namun, kali ini mereka masuk melalui jalur yang jauh lebih sempit, dengan regulasi ketat, lisensi berlapis, serta pungutan khusus dari pemerintah AS.
Dilansir dari WCCFTECH, Kamis (25/12/2025), perubahan arah ini terjadi pada paruh kedua 2025 setelah Washington melonggarkan sebagian aturan ekspor chip AI canggih. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, NVIDIA dan AMD diizinkan kembali menjual chip tertentu ke Tiongkok, dengan syarat membayar biaya ekspor signifikan serta mematuhi batasan arsitektur yang ditetapkan otoritas AS.
Sebelumnya, tekanan kebijakan ini sempat membuat NVIDIA praktis tersingkir dari pasar Tiongkok. CEO NVIDIA Jensen Huang bahkan secara terbuka mengakui dampaknya.
“Saat ini, kami sepenuhnya keluar dari Tiongkok, sehingga pangsa pasar kami di sana nol persen. Kami turun dari 95 persen menjadi nol,” ujar Huang dalam pernyataan resminya, menegaskan betapa kerasnya dampak pembatasan tersebut terhadap bisnis perusahaannya.
Menurut laporan Reuters, pemerintah AS kini mengizinkan NVIDIA menjual chip AI Hopper H200 ke Tiongkok dengan kewajiban membayar pungutan ekspor sebesar 25 persen. Kebijakan ini dipandang sebagai kompromi strategis Washington, bahwa menjaga kendali atas teknologi sensitif, sekaligus membuka kembali aliran pendapatan dari pasar AI terbesar kedua di dunia.
Analis industri melihat langkah ini sebagai perubahan pendekatan yang lebih transaksional. Emily Chen, analis teknologi global dari TechInsights, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa kebijakan tersebut mencerminkan “model baru perdagangan teknologi tinggi, di mana akses pasar diberikan secara selektif dengan pengamanan politik dan ekonomi yang ketat.”
Secara operasional, NVIDIA menargetkan pengiriman awal 40.000 hingga 80.000 unit H200 ke pelanggan Tiongkok mulai pertengahan Februari 2026, bertepatan dengan periode pasca-Tahun Baru Imlek. Meski bukan chip generasi terbaru, H200 tetap sangat diminati karena kemampuan komputasinya dalam melatih model AI skala besar, sesuatu yang masih sulit dicapai sepenuhnya oleh chip buatan domestik Tiongkok.
Di sisi lain, AMD juga mulai mencicipi peluang serupa. Perusahaan ini dikabarkan akan memasok hingga 50.000 unit accelerator AI Instinct MI308 kepada perusahaan teknologi Tiongkok, termasuk Alibaba. Jika terealisasi, ini menjadi salah satu pesanan terbesar AMD ke Tiongkok sejak era pembatasan ekspor diberlakukan.
Namun, kembalinya dua perusahaan AS tersebut berlangsung di tengah dorongan kuat Beijing untuk mempercepat kemandirian teknologi. Pemerintah Tiongkok terus mengarahkan perusahaan AI domestik agar memprioritaskan chip buatan dalam negeri, seperti yang dikembangkan Huawei, Cambricon, dan BirenTech.
Profesor ekonomi teknologi Universitas Beijing, Li Wei, menilai situasi ini sebagai persimpangan strategis. “Tiongkok membutuhkan daya komputasi besar, sementara Amerika Serikat berupaya mempertahankan keunggulan teknologinya tanpa sepenuhnya menutup pasar,” ujarnya.
Di Washington, kebijakan ini juga memicu perdebatan politik. Sejumlah anggota parlemen menuntut transparansi lebih besar terkait pemberian lisensi ekspor chip AI ke Tiongkok, dengan alasan keamanan nasional dan risiko penggunaan teknologi tersebut di luar kepentingan sipil.
Kesimpulannya, kembalinya NVIDIA dan AMD ke pasar Tiongkok menegaskan satu hal, yakni chip AI kini bukan lagi sekadar komoditas industri, melainkan medan baru tarik-menarik kekuasaan teknologi global. Di sinilah kepentingan bisnis, strategi geopolitik, dan masa depan kecerdasan buatan saling bertaut dalam satu arena yang semakin menentukan arah dunia digital. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar