8 Hal yang Tidak Lagi Dinikmati Orang di Usia 70-an Karena Malu Mengakui, Menurut Psikologi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jum, 19 Des 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Menginjak usia 70-an sering dianggap sebagai tahap kehidupan yang damai, dewasa, dan penuh dengan pengertian.
Dari luar, banyak orang mengira bahwa mereka yang berada di usia ini sudah menerima segalanya—keinginan, keterbatasan, bahkan rasa kehilangan. Namun, psikologi melihat situasi yang lebih rumit.
Di balik penampilan yang terlihat cerdas, terdapat banyak hal kecil yang perlahan tidak lagi dinikmati, bukan karena sudah tidak ingin, tetapi karena rasa malu untuk mengakui hal tersebut.
Perasaan malu ini tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh aturan masyarakat, harapan usia, serta ketakutan untuk dianggap “tidak layak” atau “masih anak-anak”.
Akibatnya, banyak orang yang berusia 70-an memilih untuk diam, menyembunyikan, dan melepaskan kebahagiaan tertentu secara perlahan—tanpa pernah benar-benar membicarakannya.
Dilaporkan oleh Geediting pada Kamis (18/12), terdapat delapan hal yang, menurut perspektif psikologi, sering kali ditinggalkan oleh orang-orang di usia 70-an karena malu untuk mengakui hal tersebut.
1. Keinginan untuk Dikagumi dan Diakui
Secara psikologis, keinginan akan pengakuan tidak pernah benar-benar berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, pada usia 70-an, banyak orang merasa tidak layak lagi mengharapkan pujian. Mereka khawatir dianggap terlalu memperhatikan diri sendiri atau “tidak tahu diri”.
Akibatnya, ketika meraih pencapaian kecil—seperti memasak dengan baik, menyelesaikan teka-teki rumit, atau membantu seseorang—mereka cenderung merendahkan diri secara berlebihan. Padahal, menghentikan diri untuk menikmati pujian dapat perlahan merusak rasa percaya diri dan membuat mereka merasa “tidak dianggap”.
2. Menikmati Pertunjukan dan Merasa Menarik
Banyak orang yang sudah tua tetap menginginkan penampilan yang rapi, menarik, dan membuat mereka percaya diri. Namun psikologi mencatat adanya perasaan malu yang kuat: takut dianggap terlalu berusaha atau “tidak sesuai dengan usianya”.
Akhirnya, mereka berhenti menikmati kegiatan berdandan, memilih pakaian kesukaan, atau merasa percaya diri saat melihat diri sendiri. Padahal, merasa nyaman dengan tubuh dan penampilan sendiri merupakan salah satu sumber kesejahteraan psikologis, baik di usia apa pun.
3. Keinginan Romantis dan Kedekatan Batin
Topik ini biasanya selalu diiringi dengan ketenangan. Banyak orang yang berusia 70-an masih merasa rindu akan hubungan emosional—bahkan romantis. Namun aturan masyarakat sering membuat mereka merasa malu untuk mengakui hal tersebut, seakan-akan cinta dan kerinduan hanya dimiliki oleh para pemuda.
Berdasarkan psikologi, tekanan terhadap keinginan akan hubungan dekat dapat menyebabkan rasa kesepian yang dalam. Mereka tidak berhenti menginginkannya, tetapi berhenti menikmatinya karena takut dihakimi.
4. Mengimpikan dan Merancang Rencana Baru
Beranggapan bahwa pada usia 70-an, seseorang sebaiknya “tidak terlalu berharap” sering kali dianggap sebagai norma yang tidak tertulis. Membayangkan sesuatu sering dianggap sebagai hal yang tidak masuk akal atau tidak realistis. Akibatnya, banyak orang mulai berhenti menikmati proses membayangkan masa depan—meskipun hanya sedikit saja.
Meskipun demikian, psikologi menyatakan bahwa memiliki harapan dan rencana, meski sederhana, dapat membantu otak tetap berfungsi dengan baik serta memberikan makna pada hari-hari yang dilalui.
5. Mengakui Rasa Kesepian
Rasa kesepian merupakan perasaan emosional yang umum, namun di kalangan lansia, mengakui hal tersebut sering kali terasa memalukan. Banyak orang merasa takut dianggap lemah, manja, atau menjadi beban bagi orang lain.
Akibatnya, mereka tidak lagi menikmati interaksi sosial secara penuh karena selalu menyembunyikan emosi mereka. Psikologi mengungkapkan bahwa rasa kesepian yang tidak disampaikan justru lebih berisiko dibandingkan rasa kesepian yang diakui dan dibicarakan.
6. Menikmati Hal-Hal Sederhana yang Dianggap “Anak Kecil”
Menonton animasi, tertawa terbahak-bahak pada hal kecil, atau menikmati permainan sederhana sering dianggap tidak layak bagi usia 70-an. Karena malu, banyak orang mengurung diri dan berhenti menikmati kesenangan kecil ini.
Meskipun demikian, psikologi positif menekankan bahwa kebahagiaan sederhana merupakan sumber emosi positif yang kuat, yang dapat membantu mengurangi rasa stres dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.
7. Mengeluh dan Menyampaikan Rasa Kelelahan
Pada usia 70-an, banyak orang merasa wajib selalu terlihat tangguh dan bersyukur. Mengeluh dianggap sebagai tanda ketidakmatangan atau kelemahan. Akibatnya, mereka tidak lagi menikmati kelegaan emosional yang sebenarnya muncul ketika keluhan mereka didengar.
Psikologi menganggap ekspresi rasa lelah sebagai cara yang baik untuk mengelola emosi, bukan sebagai tanda kekalah.
8. Mengakui Bahwa Mereka Masih Merasa Takut
Ketakutan tidak pernah hilang seiring bertambahnya usia. Takut sakit, takut ditinggalkan, takut merasa tidak berarti—semua hal itu nyata. Namun banyak orang yang berusia 70-an merasa malu untuk mengakui hal tersebut karena takut dianggap lemah.
Akhirnya, mereka berhenti merasakan rasa aman yang sebenarnya bisa muncul dari saling berbagi ketakutan dengan sesama. Berdasarkan psikologi, keberanian tidak berarti tidak merasa takut, tetapi justru berani mengakui ketakutan tersebut.
Usia tujuh puluhan bukanlah akhir dari hasrat, perasaan, atau kebutuhan emosional. Yang sering terjadi bukanlah hilangnya kepuasan, melainkan meningkatnya rasa malu untuk mengakui hal tersebut. Norma masyarakat dan harapan terhadap usia membuat banyak orang memilih diam dan melepaskan hal-hal yang sebenarnya masih ingin mereka nikmati.
Pelajaran psikologis yang sederhana namun penting adalah bahwa tidak ada perasaan yang “tidak pantas” hanya karena usia. Mengakui keinginan, rasa takut, dan kebutuhan emosional justru menciptakan ruang untuk hidup yang lebih lengkap dan bermakna—bahkan, atau mungkin terutama, pada usia 70-an. ***





Saat ini belum ada komentar