Surabaya Jadi Laboratorium Pengendalian Sampah Plastik, Tapi Produksi Sampah Masih 1.800 Ton per Hari
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya terus berupaya meningkatkan pengelolaan sampah plastik dengan menjadi laboratorium nasional dalam menghadapi isu pencemaran lingkungan. Meski program kerja sama Indonesia-Norwegia telah menunjukkan hasil positif, produksi sampah di kota ini tetap mencapai 1.800 ton per hari.
Program Kerja Sama Indonesia-Norwegia untuk Mengurangi Sampah Plastik
Pada 5 Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya meluncurkan Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution, sebuah inisiatif yang menjadikan kota ini sebagai percontohan nasional dalam pengendalian sampah plastik sungai.
Menurut Pelaksana Tugas Kepala DLH Surabaya, M. Fikser, setiap hari sekitar satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari Kali Tebu dan Kali Merutu melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi lingkungan.
“Kolaborasi ini membantu mempercepat proses pembersihan dan pengelolaan sampah plastik di dua sungai utama,” ujar Fikser.
Tantangan Utama: Volume Sampah yang Masih Tinggi
Meski keberhasilan pengangkatan sampah plastik mencerminkan efektivitas program, volume sampah yang masuk ke sungai masih sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa sumber masalah tidak berasal dari sungai itu sendiri, melainkan dari masyarakat dan aktivitas industri di sekitarnya.
Fikser menekankan bahwa sungai hanya menjadi tempat terakhir dari sistem konsumsi dan pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya optimal. “Perlu perubahan perilaku masyarakat, kawasan usaha, maupun industri untuk mengurangi sampah sejak awal.”
Upaya Perubahan Perilaku Masyarakat
Program ini tidak hanya fokus pada pengangkatan sampah, tetapi juga pada edukasi dan perubahan pola hidup masyarakat. Target utamanya adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri.
Beberapa inisiatif seperti kampanye “Surabaya Rumah Kita” dan pendekatan partisipatif dengan komunitas lokal telah dilakukan untuk mendukung perubahan tersebut.
Konteks yang Lebih Luas
Dalam konteks yang lebih luas, Surabaya tidak hanya menghadapi tantangan sampah plastik, tetapi juga perlu menghadapi peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi yang berdampak pada peningkatan produksi limbah. Pemerintah kota berkomitmen untuk terus meningkatkan tata kelola sampah, termasuk penerapan teknologi ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas pengelolaan limbah.
Langkah Berikutnya
Dalam beberapa bulan ke depan, pihak terkait akan terus memantau progres program serta melakukan evaluasi berkala. Tujuannya adalah menciptakan model pengelolaan sampah yang bisa diterapkan di kota-kota lain di Indonesia.
Kesimpulan
Surabaya telah menjadi contoh nyata dalam upaya mengurangi pencemaran plastik. Meski masih ada tantangan besar, inisiatif yang dilakukan menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan perubahan perilaku dan kolaborasi lintas sektor, kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi model pengelolaan sampah yang berkelanjutan.***

>

Saat ini belum ada komentar