Perkuat Budaya Lokal, Mall di Surabaya Diusulkan Jadi Ruang Rutin Kesenian Tradisional
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 19 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Upaya memperkuat pelestarian budaya lokal di Kota Surabaya kembali mengemuka. Sejumlah pelaku seni dan budayawan mengusulkan agar pusat perbelanjaan di Surabaya secara rutin menyediakan ruang khusus untuk pertunjukan kesenian tradisional. (30/05/26).
Mereka mendorong adanya kebijakan atau regulasi daerah yang mengatur keterlibatan pusat perbelanjaan dalam pelestarian budaya, sehingga mall tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni dan budaya masyarakat.
Ketua Srimulat, Eko, menegaskan bahwa regulasi tersebut penting untuk memastikan keberlanjutan ruang pertunjukan bagi seniman lokal.
Ia menyampaikan bahwa Surabaya memiliki banyak potensi budaya, mulai dari ludruk, wayang, hingga berbagai kesenian tradisional lain yang perlu mendapat ruang tampil lebih luas di tengah masyarakat modern.
“Surabaya memiliki kekayaan budaya yang besar. Kesenian seperti ludruk dan wayang harus terus kita hidupkan di ruang publik, termasuk di pusat perbelanjaan,” tegas Eko.
Ia juga menilai kegiatan budaya yang telah berlangsung di beberapa pusat perbelanjaan, termasuk di Fairway 9 Mall Surabaya, menjadi contoh positif bagaimana ruang komersial dapat dimanfaatkan untuk kegiatan seni.
Mall tersebut secara aktif membuka panggung bagi seniman lokal untuk menampilkan pertunjukan budaya yang menarik minat pengunjung.
Para pelaku seni mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mempertimbangkan penyusunan peraturan daerah (Perda) yang mengatur kewajiban pusat perbelanjaan dalam menyediakan agenda kesenian tradisional secara berkala.
Eko menegaskan bahwa kebijakan tersebut dapat memperkuat ekosistem seni lokal secara berkelanjutan.
Selain itu, Susilo menambahkan bahwa pemerintah daerah dan pihak swasta perlu memberikan dukungan lebih luas agar kesenian tradisional tidak hanya tampil pada acara tertentu, tetapi hadir secara rutin sebagai bagian dari aktivitas publik kota.
Ia menilai minat masyarakat terhadap pertunjukan budaya di ruang publik masih cukup tinggi.
Hal ini terlihat dari meningkatnya antusiasme penonton dalam berbagai kegiatan seni yang digelar di ruang terbuka maupun pusat perbelanjaan.
Eko menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, dan pengelola mall. Ia berharap kesenian tradisional dapat terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi kota.
Menurutnya, ruang publik modern seperti mall dapat menjadi jembatan penting dalam menjaga identitas budaya Surabaya sekaligus memperkuat keberlangsungan seni tradisional di era saat ini.(Dk/yud)
- Penulis: Teguh Priyono

>
