Eri Irawan: Solusi Berkelanjutan untuk Krisis Sampah di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengelolaan sampah menjadi isu kritis yang memerlukan perhatian serius, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya. Setiap hari, sekitar 1.800 ton sampah dihasilkan, dengan 60 persen di antaranya merupakan sampah organik. Jika tidak dikelola secara efektif, sampah ini dapat menjadi sumber emisi metana yang berdampak signifikan terhadap lingkungan dan iklim.
Permasalahan Utama Pengelolaan Sampah
Masalah utama pengelolaan sampah di Surabaya adalah sistem yang masih mengandalkan model angkut-buang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Model ini tidak hanya tidak efisien, tetapi juga menyebabkan penumpukan sampah yang berpotensi meningkatkan risiko krisis lingkungan. Data dari Carbon Mapper menunjukkan bahwa TPST Bantargebang, salah satu TPA terbesar di Indonesia, menjadi penyumbang gas metana terbesar kedua di dunia dengan emisi mencapai 6,3 metrik ton per jam.
Perubahan Pola Pikir Masyarakat
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, menekankan pentingnya perubahan total pola pikir masyarakat tentang sampah. Banyak orang masih berpikir bahwa setelah membuang sampah di tempat yang disediakan, masalah telah selesai. Namun, kenyataannya sampah tidak hilang, hanya dipindahkan ke lokasi lain. Perubahan ini harus dimulai dari tingkat individu hingga komunitas.
Pemilahan Sampah Langsung dari Sumber
Salah satu solusi nyata adalah pemilahan sampah langsung dari sumbernya, mulai dari rumah tangga hingga tempat usaha. Eri Irawan menyarankan agar sektor bisnis seperti hotel dan restoran tidak lagi mengirim sampah organik ke TPA secara gratis. Hal ini harus diiringi dengan aksi kolektif di tingkat masyarakat, seperti yang telah dilakukan di RW Menur Pumpungan melalui pemanfaatan komposter dan budidaya maggot.
Gotong Royong dan Perubahan Perilaku
Perubahan sosial melalui pendekatan komunitas menjadi jalan keluar yang realistis. Meski perubahan kebiasaan membuang sampah campur tidak bisa terjadi dalam semalam, langkah awal harus segera dilakukan. Program Kampung Pancasila dan Satgas Lingkungan diharapkan dapat membantu Surabaya beralih ke solusi berbasis komunitas yang didukung regulasi sistemik dari pemerintah kota.
Tantangan dan Peluang
Minimnya fasilitas pengolahan seperti TPS3R dan rumah kompos menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Namun, peluang untuk mengubah situasi ini sangat besar jika masyarakat dan pemerintah bekerja sama. Edukasi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci sukses dalam menjalankan program pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Tips Tambahan untuk Masyarakat
- Lakukan pemilahan sampah di rumah untuk meminimalkan volume sampah yang dibuang.
- Manfaatkan sampah organik untuk membuat pupuk atau kompos.
- Ikuti program pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah atau komunitas lokal.
- Ajak keluarga dan tetangga untuk berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan.
Pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Dengan kesadaran dan partisipasi aktif, Surabaya dapat mengurangi risiko krisis lingkungan dan menciptakan kota yang lebih bersih dan sehat. Perubahan mulai dari diri sendiri adalah langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik.***

>
>

Saat ini belum ada komentar