Perubahan Sistem Parkir di Surabaya: 389 Jukir Diganti Karena Menolak Digitalisasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya sedang menghadapi perubahan besar dalam sistem parkir. Sebanyak 389 petugas juru parkir (jukir) resmi diganti karena menolak penerapan sistem pembayaran digital. Keputusan ini diambil setelah para jukir tidak memperpanjang Kartu Tanda Anggota (KTA) yang diperlukan untuk tetap bekerja di bawah sistem baru.
Alasan Pergantian Jukir
Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya, Trio Wahyu Bowo, menjelaskan bahwa ratusan jukir tersebut tidak kunjung melakukan perpanjangan KTA hingga batas waktu yang ditentukan. “Ada kurang lebih 389 jukir yang tidak mau memperpanjang KTA-nya,” ujarnya.
Menurut Trio, pihaknya telah melakukan sosialisasi tentang sistem pembayaran digital sejak Januari 2026. Namun, para jukir tidak memberikan respons ketika diminta verifikasi KTA. “Kita sudah sosialisasikan gencar, sudah beri informasi ke seluruh warga tapi mereka tetap enggan untuk memperpanjang atau memvalidasi kartu tanda anggotanya,” tambahnya.
Implementasi Sistem Digital
Dishub Surabaya resmi menerapkan sistem pembayaran digital mulai Mei 2026. Selain itu, penggunaan voucer parkir juga diberlakukan sebagai bagian dari upaya modernisasi. Trio menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan tokoh parkir dan Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) terkait voucer parkir.
“Kami terima kasih warga antusias mendukung digitalisasi parkir,” kata Trio. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan merekrut petugas parkir baru untuk menggantikan 389 orang yang diganti.
Proses Rekrutmen Petugas Baru
Trio mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya sedang mencari orang yang bersedia menjadi petugas parkir. Namun, proses seleksi akan dilakukan terlebih dahulu. “Kami akan melakukan proses seleksi agar petugas baru memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan sistem digital,” jelasnya.
Tanggapan Masyarakat
Meskipun ada penolakan dari sebagian jukir, masyarakat umumnya mendukung langkah digitalisasi. Banyak warga menganggap sistem baru ini lebih efisien dan transparan. “Saya merasa lebih nyaman menggunakan sistem digital karena tidak ada lagi praktik pungli,” ujar salah satu warga.
Tantangan dan Harapan
Meski demikian, proses transisi ini bukan tanpa tantangan. Beberapa jukir yang diganti mengaku kesulitan mencari pekerjaan baru. “Saya sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun, tapi sekarang harus mencari alternatif lain,” keluh salah satu jukir.
Namun, pihak Dishub Surabaya berharap dengan adanya sistem digital, layanan parkir akan semakin baik dan dapat meningkatkan pendapatan daerah. “Digitalisasi ini adalah langkah penting untuk menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis,” tutup Trio.***

>
>

Saat ini belum ada komentar