Kebutuhan Hunian Layak di Jawa Timur Masih Menghadapi Tantangan Besar, Wali Kota Eri Siapkan Rusunami di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Jawa Timur, salah satu provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia, masih menghadapi tantangan signifikan dalam memenuhi kebutuhan hunian layak bagi masyarakatnya. Data yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim menunjukkan bahwa jumlah backlog atau kekurangan rumah mencapai 1,8 juta unit, sementara jumlah rumah tidak layak huni sekitar 2,4 juta unit. Angka ini menjadi indikasi bahwa perlu adanya intervensi yang lebih masif dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah tersebut.
Realisasi Pembangunan Rumah Subsidi Masih Rendah
Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah bawah, pemerintah melalui program rumah subsidi telah berupaya meningkatkan akses perumahan. Namun, realisasi pembangunan rumah subsidi di Jawa Timur pada tahun 2025 hanya mencapai 18.361 unit. Angka ini menempatkan Jawa Timur di posisi kelima secara nasional, jauh tertinggal dari daerah lain seperti Jawa Barat yang mencatat realisasi tertinggi dengan 62.591 unit.
Posisi berikutnya ditempati oleh Jawa Tengah dengan 24.470 unit, Sulawesi Selatan dengan 23.255 unit, dan Banten dengan 18.766 unit. Total penyaluran rumah subsidi nasional pada 2025 mencapai 278.868 unit, namun Jawa Timur masih kalah jauh dibandingkan wilayah lain.
Menteri Perumahan Dorong Percepatan Pembangunan
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menyatakan bahwa percepatan pembangunan perumahan di Jawa Timur harus dilakukan secara lebih agresif. Dalam kunjungan kerjanya ke Surabaya, ia menekankan pentingnya peningkatan kuota pembangunan rumah subsidi. Bahkan, ia membuka peluang untuk tambahan hingga 50.000 unit jika diperlukan.
“Minta berapa saja saya kasih, tapi jangan sampai tidak terserap. Yang penting pelaksanaannya cepat dan tepat,” tegas Menteri PKP saat memberikan arahan kepada para pemangku kepentingan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan hunian vertikal di kawasan perkotaan. Keterbatasan lahan membuat pembangunan rumah tapak semakin sulit, terutama di kota besar seperti Surabaya. Oleh karena itu, solusi seperti rusunami (rumah susun sederhana) menjadi prioritas utama.
Kesiapan Pemkot Surabaya dalam Mendukung Program
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa Pemkot Surabaya siap mendukung langkah-langkah percepatan pengadaan hunian. Ia berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah pusat dan instansi terkait dalam mempercepat pembangunan perumahan yang layak dan terjangkau.
Eri juga menyampaikan bahwa pihaknya sedang merancang rencana pengadaan rusunami di kawasan Surabaya. Proyek ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif untuk masyarakat yang kesulitan mendapatkan rumah layak.
Tantangan dan Solusi yang Perlu Diperhatikan
Masalah kebutuhan hunian layak di Jawa Timur bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kualitas dan distribusi. Masih banyak masyarakat di daerah pedesaan maupun perkotaan yang tinggal dalam kondisi rumah tidak layak huni. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan yang holistik, termasuk penguatan sistem pendanaan, peningkatan kapasitas tenaga teknis, serta partisipasi aktif masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek.
Selain itu, perlu adanya kebijakan yang lebih transparan dan akuntabel agar program rumah subsidi benar-benar bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan kebutuhan hunian layak di Jawa Timur dapat segera terpenuhi.***

>

Saat ini belum ada komentar