Peringatan Dini Cuaca: Musim Kemarau di Jawa Timur Diprediksi Lebih Awal dan Kering
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait kondisi iklim di wilayah Jawa Timur pada tahun 2026. Prediksi ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, sifat musim kemarau diprediksi lebih kering dari biasanya.
Perubahan dinamika atmosfer dan laut global menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan pergeseran pola cuaca di Jawa Timur. BMKG memperkirakan bahwa sekitar 56,9 persen wilayah Jawa Timur akan memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Namun, beberapa daerah telah mengalami kondisi kemarau sejak April 2026.
Potensi El Nino dan Kekeringan Ekstrem
Fenomena El Nino diprediksi memiliki peluang muncul pada pertengahan hingga akhir tahun 2026 dengan probabilitas mencapai 50 hingga 60 persen. Fenomena ini berpotensi menurunkan curah hujan secara drastis di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.
BMKG memproyeksikan bahwa sekitar 75 persen wilayah Jawa Timur akan mengalami hujan di bawah normal. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak di berbagai sektor, seperti krisis air bersih, risiko gagal panen di sektor pertanian, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi transisi cuaca ini. “Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kondisi cuaca di Jawa Timur, termasuk kemungkinan kekeringan pada musim kemarau apabila curah hujan berkurang,” ujarnya.
Daftar Wilayah yang Mulai Mengalami Kemarau Sejak April 2026
Berdasarkan pemantauan data BMKG, wilayah-wilayah di Jawa Timur yang diprediksi mulai mengalami kemarau sejak April 2026 dibagi menjadi tiga dasarian:
Wilayah dengan Awal Kemarau Dasarian I April (1-10 April):
– Bangkalan: Tanjung Bumi
– Banyuwangi: Kalipuro
– Jember: Ambulu, Balung, Puger, Tempurejo, Wuluhan, Gumukmas, Jombang, Kencong, Umbulsari
– Sampang: Banyuates, Ketapang
– Situbondo: Asembagus, Banyuputih, Jangkar, Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, Mlandingan, Suboh, Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, Situbondo
– Probolinggo: Besuk, Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Sumberasih, Kotaanyar, Paiton, Pakuniran
– Kota Probolinggo: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, Wonoasih
Wilayah dengan Awal Kemarau Dasarian II April (11-20 April):
– Bangkalan: Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop, Sepulu
– Banyuwangi: Banyuwangi, Blimbingsari, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Bangorejo, Cluring, Gambiran, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari
– Bojonegoro: Balen, Baureno, Kanor, Kepohbaru, Sumberrejo
– Lamongan: Babat, Karanggeneng, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Sekaran
– Lumajang: Kunir, Lumajang, Rowokangkung, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Yosowilangun
– Tuban: Bancar, Jatirogo, Kenduruan, Tambakboyo, Palang, Plumpang, Rengel, Widang
– Sumenep: Batang, Batuan, Dungkek, Gapura, Gayam, Giliginting, Kalianget, Kota Sumenep, Manding, Nonggunong, Ra’as, Saronggi, Talango
– Pasuruan: Gondang Wetan, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, Pohjentrek, Rejoso, Winongan
– Kota Pasuruan: Bugul Kidul, Gadingrejo, Panggungrejo, Purworejo
– Probolinggo: Tongas
Wilayah dengan Awal Kemarau Dasarian III April (21-30 April):
– Blitar: Binangun, Kesamben, Selopuro, Wates
– Bojonegoro: Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedewan, Malo, Margomulyo, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Tambakrejo, Trucuk
– Bondowoso: Botolinggo, Cerme, Klabang, Prajekan
– Gresik: Bungah, Duduksampeyan, Gresik, Manyar, Sidayu, Ujungpangkah
– Lamongan: Glagah
– Madiun: Dagangan, Dolopo, Geger, Kebonsari, Gemarang, Wungu
– Tuban: Bangilan, Grabagan, Jenu, Kerek, Merakurak, Montong, Semanding, Singgahan, Tuban, Parengan, Senori, Soko
– Sumenep: Bluto, Ganding, Guluk-Guluk, Pragaan
– Situbondo: Arjasa
– Trenggalek: Panggul
– Ponorogo: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sukorejo
– Sampang: Camplong, Kedungdung, Omben, Sampang, Torjun
– Nganjuk: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Nganjuk, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, Wilangan
– Pacitan: Donorojo, Pringkuku, Punung, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Sudimoro, Tulakan
– Kota Madiun: Taman
– Magetan: Kawedanan, Lembeyan, Nguntoronadi, Parang, Takeran
– Malang: Bantur, Donomulyo, Kalipare, Pagak
Langkah Antisipasi untuk Menghadapi Musim Kemarau
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi, seperti manajemen penyimpanan air dan penyesuaian pola tanam, guna meminimalisir dampak kekeringan yang lebih ekstrem di tahun 2026 ini. Kesiapan ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan air dan menjaga produktivitas sektor pertanian serta lingkungan.***

>
>
>
>
Saat ini belum ada komentar