Kenaikan Harga BBM Non Subsidi di Indonesia: Faktor Pendorong dan Dampak yang Muncul
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di Indonesia diperkirakan akan terjadi pada 1 April 2026. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk kenaikan harga minyak dunia serta beban kompensasi energi yang semakin besar.
Perkembangan Harga Minyak Dunia
Harga minyak global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin (30/3/2026), harga minyak jenis Brent mencapai US$116,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102,88 per barel. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan posisi Jumat (27/3/2026), ketika harga Brent berada di US$112,57 per barel dan WTI di US$99,64 per barel. Bahkan jika ditarik dari awal pekan lalu, harga minyak telah naik dari US$99,94 menjadi di atas US$116 saat ini.
Lonjakan harga minyak ini terjadi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu ketidakstabilan pasokan dan meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini juga memperkuat tren kenaikan harga minyak yang sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya.
Proyeksi Kenaikan Harga BBM Non Subsidi
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memprediksi bahwa harga BBM non subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex akan mengalami kenaikan antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter. Menurut Bhima, kenaikan ini tidak lepas dari beban kompensasi yang harus ditanggung pemerintah kepada PT Pertamina (Persero).
“Kenaikan BBM non subsidi karena kompensasi pemerintah ke Pertamina melonjak signifikan,” ujar Bhima kepada CNBC Indonesia. Ia menilai, tanpa realokasi anggaran besar dalam APBN, selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM akan semakin sulit ditanggung. Jika tidak disesuaikan, beban tersebut akan bertumpu pada Pertamina.
Risiko dan Dampak yang Mengancam
Bhima mengingatkan adanya risiko penyesuaian harga BBM subsidi jika tekanan fiskal terus meningkat. Kenaikan harga BBM non subsidi dapat berdampak luas, termasuk memicu inflasi khususnya pada komoditas pangan. “Transmisi dari BBM kemana-mana termasuk ke inflasi pangan. Inflasi bisa tembus 6-7% di bulan April,” katanya.
Menurut Bhima, Indonesia masih kurang siap menghadapi krisis energi dibandingkan negara-negara lain. Ia menyebut situasi ini sebagai “Quite before the Storm”, di mana pihak terkait terlalu santai dan menganggap masalah ini enteng.
Perspektif Masa Depan
Dalam jangka panjang, kenaikan harga BBM non subsidi bukanlah hal baru. Harga minyak dunia masih berada di kisaran US$90 hingga US$115 per barel, yang membuat potensi kenaikan harga BBM tetap terbuka. Kondisi ini menuntut kebijakan yang lebih proaktif dari pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengurangi dampak negatif terhadap masyarakat.***

>
>
>
>
Saat ini belum ada komentar