BPBD Probolinggo Kesiapsiagaan Bencana: Perpanjangan Status Tanggap Darurat hingga Juni 2026
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengusulkan perpanjangan masa status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026. Keputusan ini diambil karena masih adanya potensi bencana yang tinggi di wilayah tersebut, terutama terkait cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor.
Potensi Bencana yang Masih Mengancam
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, sejak awal tahun 2026, kejadian bencana di kabupaten setempat dominasi oleh banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Hal ini menyebabkan penanganan darurat masih berlangsung di beberapa wilayah. Selain itu, selama masa libur Lebaran, tercatat pula adanya satu kejadian kebakaran rumah serta krisis air bersih akibat tidak berfungsinya fasilitas PDAM di beberapa daerah.
“Kami mengusulkan perpanjangan status tanggap darurat hingga 30 Juni 2026 karena progres penanganan masih berjalan dan potensi bencana masih ada,” ujarnya dalam rapat koordinasi siaga bencana yang dihadiri oleh seluruh Kepala OPD dan camat se-Kabupaten Probolinggo.
Peringatan Cuaca Ekstrem dan Peralihan Musim
Oemar Sjarief juga menyoroti pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap potensi cuaca ekstrem seperti angin kencang, puting beliung, petir, dan hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat. Prediksi curah hujan pada April 2026 masih cukup tinggi di sejumlah wilayah, bahkan mencapai kategori tinggi hingga sangat tinggi di beberapa kecamatan.
Memasuki bulan Mei, intensitas hujan mulai menurun, namun pada Juni diperkirakan sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau. Meski demikian, ia tetap memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana peralihan.
Persiapan Menghadapi Musim Kemarau
Persiapan menghadapi musim kemarau harus dilakukan sejak dini, khususnya untuk mengantisipasi krisis air bersih dan potensi kebakaran lahan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga kesiapsiagaan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan upaya mitigasi melalui program seperti pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), pemasangan rambu kebencanaan, serta penyusunan rencana kontingensi yang terintegrasi.
Kesiapan Logistik dan Evakuasi
Selain itu, kesiapan logistik dan evakuasi menjadi fokus utama dalam penanganan bencana. Setiap wilayah harus memiliki gudang logistik mini, peralatan siaga, serta lokasi shelter sementara yang telah ditetapkan.
Pentingnya Satu Komando Data dan Informasi
Sistem satu komando data dan informasi juga ditekankan untuk menghindari simpang siur informasi di masyarakat. Semua data dan informasi harus disalurkan melalui BPBD agar tidak terjadi kebingungan atau hoaks yang bisa memicu kepanikan.
Konsep “BPBD Gercep SAE”
BPBD Probolinggo juga memperkenalkan konsep “BPBD Gercep SAE” yang mengedepankan gerak cepat, terpadu, dan berbasis kecamatan serta desa. Dalam konsep ini, kecamatan menjadi ujung tombak dalam respons awal bencana, sehingga camat bertindak sebagai manajer risiko wilayah yang harus bergerak cepat tanpa menunggu perintah.
Rekomendasi dari Sekda Probolinggo
Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto, menyampaikan bahwa usulan perpanjangan status tanggap darurat dilakukan karena proses penanganan masih berjalan dan potensi bencana masih ada. Ia menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, serta media sangat penting dalam memperkuat mitigasi dan respons terhadap bencana.
“Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri, sehingga perlu kolaborasi pentahelix untuk memperkuat mitigasi dan respons,” ujarnya.
Tindakan Lanjutan
BPBD Probolinggo terus melakukan tindakan preventif dan mitigasi dengan memperkuat sistem pengawasan dan koordinasi. Selain itu, mereka juga memberikan bantuan logistik kepada korban bencana dan melakukan sosialisasi tentang kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat Probolinggo dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana yang masih mengancam wilayah tersebut.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar