Tradisi Unik Salat Tarawih Kilat di Blitar yang Bertahan Selama Ratusan Tahun
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Salat tarawih adalah salah satu ibadah yang sangat istimewa selama bulan Ramadan. Di berbagai daerah, tradisi ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Salah satu yang menarik perhatian adalah tradisi salat tarawih kilat yang terjadi di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Meskipun hanya berlangsung dalam waktu sekitar 10 menit, ritual ini tetap dianggap sah dan memenuhi semua rukun serta sunah dalam salat.
Sejarah yang Menginspirasi
Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Menurut KH Dliyauddin Azzamzami Zubaidi, pengasuh pondok pesantren tersebut, praktik salat tarawih kilat bukanlah hal baru. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak pondok pesantren didirikan pada tahun 1907. Awalnya, kebiasaan ini muncul sebagai solusi untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat setempat yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari.
Pada masa itu, mayoritas warga sekitar bekerja sebagai petani atau buruh. Kondisi kelelahan setelah seharian bekerja membuat mereka kesulitan jika harus melaksanakan salat tarawih dengan durasi panjang. Oleh karena itu, para ulama setempat mencari jalan tengah agar masyarakat tetap bisa menjalankan ibadah tanpa meninggalkan kewajiban mencari nafkah.
Praktik yang Tetap Mematuhi Syariat
Meski durasinya singkat, pelaksanaan salat tarawih kilat tetap memenuhi rukun dan syarat sah dalam salat. KH Dliyauddin menegaskan bahwa semua sunah dalam salat tarawih juga tetap dilaksanakan, meski dengan tempo yang lebih ringkas. “Walaupun waktunya singkat, rukun dan syarat sahnya tetap dijaga. Sunah-sunahnya juga tetap ada,” ujarnya.
Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk kebiasaan semata, tetapi juga memiliki dasar teologis yang kuat. Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat dapat tetap menjalankan ajaran Islam tanpa terganggu oleh kondisi eksternal.
Minat yang Terus Bertahan
Hingga saat ini, tradisi salat tarawih kilat masih diminati oleh banyak jemaah, terutama warga yang memiliki aktivitas padat di siang hari. Banyak dari mereka yang merasa bahwa salat ini menjadi solusi ideal untuk tetap menjalankan ibadah tanpa mengganggu rutinitas harian mereka.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang turun-temurun. Dengan adanya praktek ini, nilai-nilai kebersamaan dan toleransi antara kehidupan sehari-hari dan ibadah bisa terjaga.
Makna Budaya dan Agama yang Mendalam
Tradisi salat tarawih kilat di Blitar tidak hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga mengandung makna budaya dan agama yang mendalam. Ia mencerminkan kebijaksanaan para ulama dulu yang mampu menyesuaikan ajaran Islam dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Dengan demikian, ajaran Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan nyata.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar