Kehidupan Harian Pekerja Dapur MBG di Lumajang: Kerja Keras dan Pengorbanan yang Tidak Terlihat
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah rutinitas sehari-hari, banyak pekerjaan yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah para relawan pencuci ompreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lumajang. Meski tugasnya tampak sederhana, keterlibatan mereka sangat penting dalam memastikan kebersihan dan keselamatan pangan yang diberikan kepada masyarakat.
Proses Kerja yang Menyita Tenaga dan Waktu
Setiap hari, para relawan seperti Ida Agustin, 48 tahun, menghabiskan waktu dari siang hingga sore untuk membersihkan ratusan bahkan ribuan ompreng yang berisi sisa makanan. Proses ini dimulai dengan membersihkan sisa nasi, sayur, dan lauk yang menempel pada ompreng. Setelah itu, ompreng direndam dan disabuni agar benar-benar bersih.
“Yang susah itu kalau minyaknya banyak, harus benar-benar bersih. Soalnya ini untuk keselamatan penerima manfaat juga,” ujarnya.
Tangan yang terbiasa bekerja keras dan sering terkena sabun membuat kulitnya iritasi. Namun, Ida tetap memilih tidak menggunakan sarung tangan karena khawatir ompreng menjadi licin dan rawan terjatuh.
Kehidupan yang Berubah Sejak Bergabung dengan Program MBG
Sebelum bergabung sebagai relawan cuci ompreng, Ida menjalani kehidupan yang kurang stabil secara finansial. Kini, melalui kerja keras di dapur MBG, ia berhasil melunaskan semua hutang yang sebelumnya menjadi beban berat baginya.
Program MBG, yang bertujuan memberikan makanan bergizi gratis kepada warga miskin, tidak hanya membantu masyarakat secara langsung, tetapi juga memberikan peluang bagi para relawan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Peran Penting Relawan dalam Sistem Distribusi Makanan
Relawan seperti Ida tidak hanya bertugas membersihkan ompreng, tetapi juga menjadi bagian dari rantai distribusi makanan yang aman dan bersih. Tanpa peran mereka, proses pengangkutan dan penyimpanan makanan bisa terganggu.
Selain itu, keberadaan relawan juga membantu mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan di dapur MBG. Dengan sistem kerja yang terorganisir, setiap ompreng yang diterima oleh penerima manfaat pasti dalam kondisi bersih dan layak konsumsi.
Kondisi Fisik yang Menjadi Tantangan
Meski tugasnya penting, kondisi fisik para relawan sering kali menjadi kendala. Air dingin dan sabun yang digunakan untuk mencuci ompreng sering kali menyebabkan iritasi pada kulit. Selain itu, posisi tubuh yang terus-menerus bergerak membuat otot-otot mereka lelah.
Namun, Ida dan rekan-rekannya tetap semangat. Bagi mereka, setiap ompreng yang dibersihkan adalah bentuk bakti kepada masyarakat.
Kesadaran akan Kesehatan dan Kebersihan
Kesadaran akan kebersihan dan kesehatan menjadi prioritas utama dalam pekerjaan ini. Para relawan tidak hanya memastikan ompreng bersih, tetapi juga memperhatikan cara penyimpanan dan pengangkutan agar tidak terkontaminasi.
Hal ini menjadi bukti bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga pada kualitas dan keamanan yang diberikan.
Bukan Hanya Pekerjaan, Tapi Juga Kepedulian
Pekerjaan para relawan cuci ompreng di dapur MBG di Lumajang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat umum, tetapi peran mereka sangat penting dalam mendukung program pangan yang berkelanjutan. Dengan kerja keras dan dedikasi, mereka membantu masyarakat miskin mendapatkan akses terhadap makanan bergizi.
Bagi Ida Agustin, pekerjaan ini bukan hanya sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bentuk perjuangan untuk hidup lebih baik. Dengan begitu, setiap ompreng yang ia cuci adalah simbol dari harapan dan ketekunan yang tak pernah padam.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar