Miris! Peristiwa Tragedi Siswa SD di NTT: Bukan Hanya Soal Buku dan Pena
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Peristiwa kematian seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Ngada, NTT, telah memicu perhatian serius terhadap isu-isu sosial yang mendasar. Kejadian ini tidak hanya menjadi cerminan dari kesulitan ekonomi keluarga, tetapi juga menyoroti masalah-masalah struktural dalam sistem pendidikan dan perlindungan sosial di Indonesia.
Faktor-faktor Penyebab Kecemasan Masyarakat
Peristiwa tragis ini mengungkapkan bahwa kemiskinan struktural masih menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga di daerah terpencil. Anak-anak yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit seringkali tidak memiliki akses layanan dasar seperti pendidikan berkualitas dan bantuan sosial yang memadai. Hal ini memperparah rasa putus asa dan tekanan psikologis yang dialami oleh anak-anak, terutama mereka yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Surat yang ditinggalkan oleh korban menunjukkan kekecewaannya terhadap orang tuanya karena dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku tulis dan pulpen. Isi surat tersebut juga mencerminkan perasaan sedih dan penyesalan yang mendalam, serta permintaan untuk tidak bersedih setelah ia pergi.
Kritik Terhadap Program Sekolah Rakyat
Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko, menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih selektif dan berbasis data dalam pelaksanaan program Sekolah Rakyat. Ia menekankan bahwa anggaran sebesar Rp 24,9 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan 200 gedung Sekolah Rakyat baru harus digunakan secara efektif dan tepat sasaran. Program ini harus dipadukan dengan inisiatif lain seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Program Bantuan Non Tunai (PBNT), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk memberikan dukungan komprehensif kepada keluarga miskin.
Singgih menyatakan bahwa Sekolah Rakyat tidak boleh hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus memberikan dukungan psikologis sosial bagi anak dan penguatan kapasitas orang tua. Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman yang dapat mendeteksi dini tanda-tanda stres pada anak dan menghubungkannya dengan sistem bantuan yang tersedia.
Pentingnya Perlindungan Sosial untuk Anak
Menurut Singgih, keterbatasan ekonomi sering kali dikaitkan dengan rendahnya akses layanan sosial, termasuk pendampingan keluarga dan layanan kesehatan mental anak. Oleh karena itu, perlindungan sosial harus diperkuat agar bisa menjaga kesejahteraan anak-anak di seluruh Indonesia. Dengan demikian, kasus serupa dapat diminimalkan dan masa depan generasi penerus bangsa dapat lebih terjamin.
Tantangan dan Solusi Jangka Panjang
Dalam upaya mencegah kejadian serupa di masa depan, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat sendiri. Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa beban ekonomi yang berlebihan.
Singgih berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan perlindungan sosial dan memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara digunakan sebesar-besarnya untuk keselamatan, kesejahteraan, dan masa depan generasi penerus bangsa. Dengan demikian, dana triliunan rupiah dalam Sekolah Rakyat dapat diterjemahkan menjadi senyuman anak-anak yang bisa bersekolah tanpa beban dan harapan bagi orang tua mereka.

>

Saat ini belum ada komentar