Peningkatan Pengawasan di Bandara Soetta untuk Cegah Penyebaran Virus Nipah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pihak Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten memperketat pengawasan terhadap masuknya hewan dan tumbuhan dari negara yang sedang mengalami wabah virus Nipah. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit tersebut ke wilayah Indonesia, khususnya melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Langkah Pemeriksaan yang Lebih Ketat
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten, Duma Sari Margaretha Harianja, menjelaskan bahwa pihaknya telah melarang masuknya hewan tertentu dari India, termasuk kelelawar dan babi. Hal ini dilakukan karena kedua jenis hewan tersebut diketahui menjadi vektor penyebaran virus Nipah.
“Untuk dari negara yang sedang outbreak, India, kita sudah melarang hewan-hewan masuk ke Indonesia berupa kelelawar dan babi,” ujar Duma.
Selain itu, pihaknya juga meningkatkan pengawasan terhadap tumbuhan yang berasal dari daerah yang terinfeksi virus Nipah. Dengan adanya peningkatan kewaspadaan ini, diharapkan risiko penularan dapat diminimalkan.
Penerapan Protokol Keamanan dan Teknologi
Duma menambahkan bahwa pihaknya menerapkan protokol biosecurity dan penggunaan alat pelindung diri dalam setiap proses karantina. Hal ini dilakukan untuk melindungi petugas dari potensi penularan virus Nipah.
Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Balai Karantina Kesehatan Manusia. Meskipun virus Nipah bersifat geonosis (dapat menular dari manusia ke hewan dan sebaliknya), fokus utama pengawasan tetap pada hewan.
Aplikasi Digital untuk Pemantauan Penumpang
Untuk memperkuat sistem pengawasan, pihak Balai Karantina juga menggunakan aplikasi All Indonesia. Dalam aplikasi ini, penumpang diminta untuk mengisi data tentang barang bawaannya sebelum tiba di Indonesia.
“Usai diisi aplikasi tersebut, pihaknya bisa mengetahui tiap penumpang dengan membawa hewan yang bergejala penyakit tersebut,” jelas Duma.
Dengan adanya fitur digital ini, pihak karantina dapat lebih cepat mendeteksi kemungkinan adanya hewan atau tumbuhan yang membawa penyakit berbahaya.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Meski langkah-langkah teknis telah diterapkan, Duma menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kewaspadaan. Masyarakat diminta untuk tidak membawa hewan atau tumbuhan yang tidak diperbolehkan, serta mengikuti anjuran kesehatan yang diberikan oleh otoritas terkait.
Isu Virus Nipah yang Menjadi Perhatian Nasional
Virus Nipah, yang pertama kali ditemukan di Malaysia pada tahun 1998, kini kembali menjadi perhatian nasional setelah munculnya kasus di beberapa negara. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi.
Di Indonesia, meski belum ada laporan kasus virus Nipah, pihak kesehatan dan karantina terus memantau situasi secara ketat. Dengan perluasan pengawasan di bandara-bandara utama, diharapkan penyebaran virus Nipah dapat dicegah sejak dini.

>

Saat ini belum ada komentar