DIAGRAMKOTA.COM — Ada yang baru di lingkungan Pondok Paliatif RW 12, Kelurahan Wage, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Setelah sebelumnya memiliki Posyandu Balita dan Posyandu Lansia Nirmala, kini resmi hadir Posyandu Remaja Sehati sebagai ruang baru untuk memperkuat perhatian terhadap kesehatan generasi muda.
Pengukuhan kader Posyandu Remaja Sehati tersebut dirangkai dengan Seminar Edukasi Kesehatan bertema “Kenali Leukemia, Cegah Anemia, Jaga Masa Depan”. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS), Posyandu Lansia Nirmala, serta masyarakat RW 12 Wage dalam memperkuat edukasi dan layanan kesehatan bagi remaja.
Kegiatan berlangsung di Balai RW 12 Pondok Wage Indah II, Waru, Sidoarjo, Minggu (13/9/2026). Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat FK UWKS yang didukung melalui Elektronik Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (ENIMAS) UWKS.
Dari Balita, Lansia hingga Remaja
Ketua Pondok Paliatif sekaligus
Ketua Panitia kegiatan, Lilis Widayati, mengatakan kehadiran Posyandu Remaja Sehati melengkapi ekosistem pelayanan kesehatan masyarakat di RW 12.
Menurutnya, kegiatan bersama FK UWKS sebenarnya telah dimulai sejak Mei 2026. Para kader remaja terlebih dahulu mendapatkan pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan anak usia sekolah hingga remaja.
“Posyandu Remaja dibentuk dari bulan Desember 2025, dan bulan Mei lalu kami sudah melakukan pelatihan para kader remaja. Kemudian dilakukan pemeriksaan anak usia sekolah sampai remaja, antara lain pemeriksaan HB, nutrisi, berat badan, tinggi badan, IMT dan tekanan darah,” kata Lilis.
Memasuki Juni, pemeriksaan kesehatan juga menyasar kelompok lansia yang selama ini telah terorganisasi melalui kegiatan rutin Posyandu Lansia Nirmala.
“Untuk lansia di RW 12, setiap bulan selalu ada kegiatan pemeriksaan. Saat ini pemeriksaannya juga ditambah dengan pemeriksaan HB,” ujarnya.
Lilis mengakui seminar yang sedianya digelar pada Juli harus mengalami penundaan karena sejumlah kendala. Namun, menurutnya, penundaan tersebut tidak menyurutkan semangat seluruh pihak hingga akhirnya kegiatan dapat terlaksana pada September.
Bukan Sekadar Seminar, Tapi Membangun Generasi Sehat
Lilis menegaskan, kegiatan bersama FK UWKS bukan kali pertama dilakukan di lingkungan RW 12. Program edukasi dan pemeriksaan kesehatan telah menyentuh sejumlah tema penyakit serius.
Ia menyebut kegiatan sebelumnya antara lain pemeriksaan dan edukasi terkait kanker serviks melalui pap smear dan IVA, kanker usus, kanker prostat, hingga kanker paru-paru.
“Kegiatan ini sudah kesekian kalinya. Kami sangat berterima kasih kepada para dokter dari UWKS yang sudah berkali-kali hadir dan memberikan edukasi serta pemeriksaan kepada warga,” katanya.
Kini perhatian diarahkan kepada remaja. Lilis mengatakan Posyandu Remaja Sehati diharapkan menjadi investasi kesehatan jangka panjang bagi warga RW 12.
“Adik-adik remaja hari ini akan mengemban tugas baru dari RW 12 untuk ikut menata dan menjaga kesehatan warga. Harapannya, mereka menjadi generasi yang sehat dan cerdas,” tegasnya.
FK UWKS: Remaja Jangan Sampai Luput dari Perhatian Kesehatan
Ketua Pelaksana sekaligus dosen FK UWKS, Dr. Pratika Yuhyi Hernanda, MSc, PhD, mengatakan pembentukan Posyandu Remaja Sehati berangkat dari kegelisahan bahwa perhatian terhadap kesehatan masyarakat selama ini lebih banyak terfokus pada balita dan lansia.
“Di sini sudah ada Posyandu Lansia, ada Posyandu Balita. Tetapi kelihatannya tidak ada yang secara khusus menyasar kesehatan remaja,” ujar Pratika.
Padahal, lanjut dia, jumlah remaja di RW 12 cukup besar. Berdasarkan data yang menjadi dasar kegiatan tersebut, terdapat sekitar 200 remaja di wilayah RW 12.
“Karena remaja di RW 12 ini cukup banyak, kurang lebih 200 remaja, kami melihat perlu ada kegiatan yang secara khusus mengarah pada kesehatan mereka,” jelasnya.
Dari hasil screening sebelumnya, perhatian khusus juga muncul terhadap kondisi remaja perempuan. Salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah anemia yang dapat berkaitan dengan menstruasi dan asupan nutrisi yang tidak mencukupi.
“Pada pemeriksaan screening sebelumnya, kami menemukan beberapa remaja perempuan yang perlu mendapatkan perhatian. Karena itu kami berinisiatif mengadakan edukasi tentang anemia dan leukemia,” ungkap Pratika.
Anemia Remaja Masih Jadi Perhatian
Pratika menyebut anemia merupakan persoalan kesehatan yang cukup besar pada kelompok remaja. Dalam paparannya, ia menyampaikan angka prevalensi anemia remaja secara nasional berada di kisaran 30 persen.
Karena itu, edukasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan mengenai penyakit. Remaja juga perlu memahami pentingnya pola makan, kecukupan zat gizi, kebiasaan hidup sehat serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Semoga seminar pengabdian masyarakat dari para dosen FK UWKS bersama Posyandu Remaja dan Posyandu Lansia dapat memberikan kontribusi positif untuk kesehatan, khususnya adik-adik remaja dan masyarakat secara keseluruhan,” katanya.
Pratika juga mengapresiasi respons positif para remaja RW 12 yang mulai terlibat aktif dalam kegiatan kesehatan.
Menurutnya, kehadiran Posyandu Remaja Sehati menjadi langkah penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih terintegrasi berdasarkan tahapan usia.
Empat Dokter Kupas Leukemia, Anemia hingga Genetika
Seminar menghadirkan empat narasumber dari bidang kesehatan dengan materi yang saling melengkapi.
dr. Budiono Raharjo, M.Th., Sp.PK(K) mengupas mengenai leukemia, termasuk pentingnya mengenali penyakit kanker darah tersebut sejak dini.
Dalam paparannya, ia juga mengingatkan masyarakat mengenai pola hidup dan kebiasaan sehari-hari yang perlu diperhatikan, termasuk konsumsi makanan tertentu seperti mi instan serta kebiasaan menggunakan telepon seluler menjelang atau saat tidur.
Sementara Dr. dr. Febtarini Rahmawati, Sp.PK, FR membahas anemia, khususnya pentingnya pencegahan pada anak, remaja hingga ibu hamil.
Kemudian Dr. Maria Widianti Sugeng, MKes. mengangkat aspek nutrisi melalui materi “Pengelolaan Nutrisi untuk Anemia dan Leukemia”.
Sedangkan Dr. Pratika Yuhyi Hernanda, MSc, PhD memberikan pemahaman mengenai genetika kanker darah atau leukemia.
Rangkaian materi tersebut menegaskan bahwa pencegahan penyakit tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika seseorang sudah sakit, tetapi juga menyangkut edukasi, pola hidup, nutrisi, deteksi dini dan pemahaman faktor risiko.
RW 12 Dorong Remaja Jadi Motor Kesehatan
Ketua RW 12 Wage, Joko Lelono, menyambut positif pembentukan Posyandu Remaja Sehati. Menurutnya, kehadiran posyandu tersebut melengkapi pelayanan kesehatan masyarakat yang sebelumnya telah berjalan melalui Posyandu Balita dan Posyandu Lansia.
“Posyandu di RW 12 terus meningkat. Ada balita, lansia, sekarang ada remaja,” ujarnya.
Joko berharap keberadaan Posyandu Remaja Sehati mendapat dukungan dari seluruh warga sehingga kegiatan para remaja tidak berhenti sebagai seremoni pengukuhan.
Ia juga mengapresiasi dukungan FK UWKS yang dinilai konsisten mendampingi masyarakat RW 12. “Terima kasih kepada FK UWKS, khususnya Ibu Dr. Pratika yang terus semangat dan memberikan support untuk kegiatan ini,” katanya.
Menurut Joko, generasi muda harus mulai diberi ruang untuk terlibat dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Yang sudah tua ini memberikan pendidikan dan pengalaman kepada anak-anak remaja. Harapannya mereka bisa menjaga kesehatan dan meneruskan kegiatan ini,” ujarnya.
Nur Azizah: Posyandu Remaja Sehati Jadi Ruang Anak Muda Belajar Kesehatan
Ketua Posyandu Remaja Sehati, Nur Azizah Rahmadinar, S.Psi, menjadi bagian penting dalam lahirnya wadah kesehatan khusus remaja di RW 12.
“Posyandu Remaja Sehati kami harapkan bukan hanya tempat pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi ruang bagi remaja untuk belajar, berdiskusi dan saling mengingatkan mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.”
Ia dapat menambahkan bahwa keterlibatan remaja sendiri menjadi kunci agar program tersebut berjalan berkelanjutan.
“Kami ingin remaja tidak hanya menjadi objek pemeriksaan, tetapi juga menjadi pelaku yang ikut menggerakkan kegiatan kesehatan di lingkungannya.” ***
