Indonesia Tetap Eksis di Pameran Anggrek Internasional Malaysia Meski Terkendala Regulasi
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 6 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya di ajang internasional dengan berpartisipasi dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 yang digelar di Resort World Awana, Genting Highland, Malaysia, pada 3–10 Juni 2026.
Meski menghadapi berbagai kendala regulasi dan prosedur kepabeanan, delegasi Indonesia tetap hadir untuk mempromosikan kekayaan anggrek Nusantara kepada dunia.
Duta Indonesia, Rudy T. Mintarto, menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam pameran tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menjaga nama bangsa di tengah komunitas pecinta anggrek internasional.
Menurutnya, kendala administrasi yang cukup rumit masih menjadi hambatan utama bagi pelaku budidaya anggrek Indonesia untuk membawa tanaman langsung dari Tanah Air ke luar negeri.
“Indonesia memiliki kekayaan anggrek yang luar biasa. Namun proses kepabeanan dan berbagai regulasi terkait pengiriman tanaman hidup masih menjadi tantangan besar bagi para peserta dari Indonesia,” ujar Rudy.
Ia menjelaskan bahwa banyak pihak di luar negeri yang belum memahami perbedaan antara anggrek hasil budidaya dan anggrek yang berasal dari habitat alami.
Kondisi tersebut membuat proses perizinan dan pengiriman tanaman menjadi lebih kompleks dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Meski tidak membawa anggrek langsung dari Indonesia, delegasi Merah Putih tetap berupaya menghadirkan identitas bangsa melalui konsep stan yang mengangkat budaya Indonesia.
Rudy bersama Win Selamat Riyadi dan TB Farhan Davin, penata taman asal Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menyiapkan stan bertema budaya Jawa Timur untuk menarik perhatian pengunjung.
Kehadiran delegasi Indonesia juga mendapat dukungan dari panitia penyelenggara yang menyediakan fasilitas transportasi, akomodasi, serta berbagai kebutuhan teknis selama pameran berlangsung.
Pada area pameran seluas 32 meter persegi, Indonesia menampilkan sekitar 300 pot anggrek Dendrobium, 150 pot berbagai jenis anggrek, 150 tangkai anggrek Aranda, dan 300 bunga potong yang disiapkan langsung di lokasi pameran.
Nilai keseluruhan tanaman yang digunakan mencapai sekitar 8.000 Ringgit Malaysia atau setara Rp25 juta.
Rudy menilai pameran internasional seperti Malaysia Highest Flower Exhibition tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang besar.
Para kolektor, pelaku usaha tanaman hias, eksportir, hingga investor dari berbagai negara hadir untuk menjalin kerja sama dan melakukan transaksi bisnis.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri florikultura apabila dukungan terhadap pelaku usaha tanaman hias semakin diperkuat.
Ia mencontohkan sejumlah pameran anggrek di Indonesia yang mampu menghasilkan transaksi miliaran rupiah dalam waktu singkat.
Selama hampir 15 tahun mengikuti berbagai pameran internasional, Rudy mengaku terus berupaya menjaga kehadiran Indonesia di panggung dunia meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Baginya, kehadiran Indonesia dalam setiap ajang internasional menjadi bagian penting dari promosi kekayaan hayati nasional.
“Saya ingin Merah Putih tetap berkibar bersama negara-negara lain. Dunia harus tetap mengenal Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan anggrek terbaik di dunia,” tegasnya.
Partisipasi Indonesia dalam Malaysia Highest Flower Exhibition 2026 menjadi bukti bahwa semangat promosi anggrek Nusantara tidak surut meski menghadapi kendala regulasi.
Delegasi Indonesia tetap berupaya memperkenalkan potensi flora nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan florikultura internasional.(Dk/nins)
- Penulis: Teguh Priyono

>
