Penanganan Banjir di Surabaya: Strategi Pemkot untuk Mengatasi Titik Rawan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang terkenal dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang berkembang pesat, menghadapi tantangan besar dalam mengatasi masalah banjir. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi, kota ini semakin rentan terhadap genangan air akibat curah hujan tinggi dan sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air. Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah merancang strategi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di sejumlah titik rawan, termasuk wilayah selatan yang sering terdampak.
Target Tuntas Banjir pada 2026
Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya, menyatakan bahwa penanganan banjir menjadi prioritas utama dalam rencana pembangunan tahun 2026. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memastikan tidak ada lagi genangan air di area yang sebelumnya sering terendam banjir. “Ini adalah pembangunan yang akan dilakukan di tahun 2026. Karena itu nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir,” ujar Eri.
Strategi yang diterapkan melibatkan pembangunan rumah pompa baru di beberapa lokasi kritis, seperti Panjang Jiwo dan Medokan Semampir. Selain itu, Pemkot juga berencana membangun rumah pompa di depan Gereja Bethany Nginden, yang sering tergenang setiap musim hujan.
Pembangunan Rumah Pompa dan Sistem Drainase
Beberapa titik lain yang diprioritaskan untuk penanganan banjir antara lain adalah Rumah Pompa Ahmad Yani, Jalan Gayungsari Barat, serta saluran di Dukuh Menanggal, Jemursari, Kendangsari, dan Tenggilis Mejoyo. Eri menjelaskan bahwa proyek ini akan dimulai tahun ini dan diharapkan dapat mengurangi risiko banjir secara signifikan.
Namun, tidak semua lokasi bisa dikerjakan dengan metode konvensional. Di kawasan Menanggal dan Gayung Kebonsari, misalnya, Pemkot akan menggunakan metode CCSP (Concrete Culvert Structural Pipe) karena anggaran tidak cukup untuk pembangunan box culvert. Meski demikian, pengerukan saluran akan dilakukan tahun ini untuk meningkatkan kapasitas aliran air.
Solusi Alternatif untuk Area Terbatas
Di lokasi seperti Jalan Tenggilis Mejoyo atau depan Apartemen Metropolis, pelebaran saluran tidak memungkinkan karena adanya jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Untuk mengatasi hal ini, Pemkot akan membangun storage di jalan sebagai alternatif. “Kita buat storage di jalan untuk mengurangi beban di saluran irigasi,” jelas Eri.
Sistem storage ini dirancang sebagai solusi efisien yang lebih murah dibandingkan pembebasan lahan atau pembangunan saluran baru. Dengan cara ini, air hujan dapat disimpan sementara sebelum dialirkan ke sungai atau rumah pompa.
Perubahan Fungsi Lahan dan Pengaruhnya pada Banjir
Selain infrastruktur, perubahan fungsi lahan juga menjadi faktor utama penyebab banjir di Surabaya. Eri menjelaskan bahwa sebagian besar saluran irigasi kini digunakan sebagai saluran drainase, padahal sebelumnya berfungsi sebagai irigasi. “Dulu Surabaya masih sepi, semua aliran air dimasukkan ke irigasi. Sekarang, karena resapan air berkurang akibat padatnya permukiman, semua air hujan langsung masuk ke saluran irigasi,” ujarnya.
Untuk mengatasi ini, Pemkot fokus pada penguatan konektivitas dan elevasi jaringan saluran. Tujuannya adalah memastikan sistem airan antar wilayah terintegrasi sehingga tidak menyebabkan genangan.
Tantangan dan Langkah Lanjutan
Meski memiliki rencana jelas, Pemkot Surabaya tetap menghadapi tantangan dalam pelaksanaan proyek ini. Keterbatasan anggaran, kondisi geografis, dan perubahan lingkungan menjadi faktor yang harus diperhatikan. Namun, Eri optimis bahwa dengan kerja sama yang baik dan pengelolaan yang tepat, target tuntas banjir di 2026 dapat tercapai.
“Kita akan lihat, kalau saluran irigasi ini menampung, dan bisa didalamkan, maka kita dalamkan. Tapi kalau ternyata saluran irigasi tidak menampung, maka kita buat storage yang ada di jalan untuk kita potong,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Surabaya berusaha menjadi kota yang lebih siap menghadapi bencana alam, khususnya banjir, melalui inovasi dan perencanaan yang matang.***

>

Saat ini belum ada komentar