Flyover Mayangkara Surabaya, Jalan Tol Terpendek dengan Sejarah Unik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Flyover Mayangkara di Surabaya bukan hanya sekadar jembatan layang yang menghubungkan dua sisi jalan. Struktur ini memiliki sejarah yang menarik sebagai jalan tol pertama di kota tersebut dan yang terpendek di Indonesia. Dengan panjang sekitar 500 meter, infrastruktur ini pernah menerapkan sistem tarif tol pada tahun 1980-an.
Dalam keterangannya, Kuncarsono Prasetyo, pegiat sejarah Surabaya, menjelaskan bahwa Flyover Mayangkara mulai beroperasi sekitar tahun 1981. Pada masa itu, pengguna harus membayar tunai dengan tarif antara Rp 100 hingga Rp 200 per kendaraan. Sistem ini mirip dengan prosedur masuk jalan tol umumnya, tetapi tanpa teknologi elektronik seperti saat ini.
Penghapusan sistem tarif tol terjadi pada tahun 1986 setelah munculnya protes dari masyarakat. Menurut Kuncarsono, alasan pasti tidak diketahui, tetapi fakta bahwa jalan tersebut menjadi gratis selama sekitar lima tahun menunjukkan adanya pertimbangan ekonomi atau sosial.
Pembangunan Flyover Mayangkara disebut-sebut memakan anggaran APBN sebesar Rp 2,5 miliar. Meski relatif pendek, struktur ini sempat menyandang gelar sebagai ruas jalan tol terpendek di Indonesia. Bahkan, ukuran panjangnya bisa diukur menggunakan Google Earth untuk memastikan keakuratannya.
Sejarah perluasan jalan Ahmad Yani juga menjadi bagian penting dari kisah Flyover Mayangkara. Dulu, jalan ini hanya memiliki satu sisi di bagian barat dengan lebar yang sempit. Seiring perkembangan kota, jalan ini diperluas hingga memiliki empat sisi termasuk jalur lambat.
Nama “Mayangkara” berasal dari kuda putih yang ditunggangi oleh Letnan Kolonel R. Djarot Soebijantoro, Komandan Batalyon 503 Mayangkara. Nama ini memiliki makna mendalam terkait perjuangan pasukan kepolisian dalam merebut kemerdekaan.
Di dekat Flyover Mayangkara, terdapat Monumen Patung Laskar Mayangkara. Patung ini sudah berdiri jauh sebelum jembatan dibangun, sehingga masyarakat secara alami menyebut daerah tersebut sesuai dengan ikon kawasan tersebut.
Kuncarsono menambahkan bahwa nama Flyover Mayangkara dipilih karena keterkaitannya dengan patung yang ada di sekitar area tersebut. “Karena di situ sebelum ada (jembatan) itu sudah ada patung Laskar Mayangkara. Itu pejuang dari polisi. Sehingga ketika jembatan dibangun, orang-orang menyebut daerah situ memang Patung Mayangkara,” ujarnya.
Beberapa informasi tambahan tentang Flyover Mayangkara meliputi:
– Fungsi utamanya adalah mengurai kemacetan di atas perlintasan kereta api Wonokromo.
– Pernah menjadi tempat operasional Jasa Marga, meskipun kini tidak lagi digunakan.
– Memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi warga Surabaya.
[FAQ]
Apa arti nama “Mayangkara”?
Nama Mayangkara merujuk pada kuda putih yang ditunggangi oleh Komandan Batalyon 503 Mayangkara, Letnan Kolonel R. Djarot Soebijantoro. Nama ini memiliki makna historis terkait perjuangan pasukan kepolisian dalam merebut kemerdekaan.
Mengapa Flyover Mayangkara disebut jalan tol terpendek?
Flyover Mayangkara memiliki panjang sekitar 500 meter dan pernah menerapkan sistem tol pada tahun 1980-an. Dengan panjang yang relatif pendek, infrastruktur ini menyandang gelar sebagai jalan tol terpendek di Indonesia.
Bagaimana sistem pembayaran tol di masa lalu?
Pada masa itu, pengguna jalan harus membayar tunai dan menerima karcis sebagai bukti pembayaran. Tarif yang dikenakan berkisar antara Rp 100 hingga Rp 200 per kendaraan.***

>

Saat ini belum ada komentar