Kenaikan Harga Plastik dan Dampaknya pada Aktivitas Pemulung di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini telah memicu perubahan dalam perilaku masyarakat, khususnya pemulung di wilayah Surabaya. Penelitian dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa peningkatan harga plastik berdampak langsung pada aktivitas pemilahan sampah oleh para pemulung. Mereka lebih aktif mencari dan memilah sampah plastik karena nilai ekonomisnya meningkat.
Peningkatan Aktivitas Pemulung di TPS
Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, jumlah pemulung di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) mengalami peningkatan signifikan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sampah plastik memiliki nilai jual yang lebih tinggi akibat kenaikan harga. Para pemulung mulai memanfaatkan situasi ini dengan memilah sampah plastik secara langsung di TPS.
Namun, aktivitas ini tidak hanya memberi dampak positif bagi pemulung, tetapi juga menyebabkan gangguan pada proses pengangkutan sampah. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Surabaya, M Fikser, aktivitas pemilahan sampah oleh pemulung sering kali mengganggu operasional pengangkutan dan menyebabkan keterbatasan ruang penampungan di TPS.
Gangguan pada Operasional TPS
Fikser menjelaskan bahwa keberadaan sampah plastik di TPS turut memicu meningkatnya aktivitas pemulung yang memilah sampah bernilai ekonomis. Namun, aktivitas tersebut justru memperparah penumpukan karena ruang TPS menjadi berkurang akibat aktivitas pemilahan di lokasi. “Ini yang kami halau, tetapi tidak ada pengurangan (volume sampah) plastik di TPS-TPS,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan ruang di TPS akibat aktivitas pemulung berimbas pada melubernya sampah hingga ke badan jalan, sehingga mengganggu kebersihan dan estetika kota. “Nah, banyaknya pemilah sampah atau pemulung sampah plastik di TPS ini juga berakibat pada ruang atau luasan TPS menjadi berkurang,” katanya.
Instruksi Wali Kota untuk Penertiban TPS
Untuk mengatasi masalah ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan instruksi kepada DLH untuk melakukan penertiban seluruh TPS agar tetap berfungsi optimal. “Ini yang kemudian kita diperintahkan oleh Pak Wali Kota (Eri Cahyadi) untuk menertibkan dan merapikan seluruh TPS,” jelas Fikser.
Penertiban ini dilakukan untuk memastikan bahwa TPS dapat beroperasi dengan baik tanpa adanya gangguan dari aktivitas pemilahan sampah oleh pemulung. Selain itu, penertiban juga bertujuan untuk mencegah meluberannya sampah ke area luar TPS, yang dapat mengganggu lingkungan sekitar.
Tidak Ada Perubahan Signifikan pada Konsumsi Plastik
Meskipun harga plastik naik, hingga saat ini belum terlihat perubahan signifikan pada perilaku konsumsi masyarakat. Fikser menyebutkan bahwa konsumsi plastik masih tinggi, terutama dari aktivitas belanja yang masih mengandalkan kantong plastik, termasuk di sejumlah toko modern. “Saat ini belum terdampak ya, karena memang masih saja orang belanja menggunakan plastik,” kata Koordinator Pengelolaan TPS se-Kota Surabaya ini.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga plastik belum berdampak terhadap volume sampah yang masuk ke TPS. Justru, kenaikan harga tersebut justru mendorong pemulung memanfaatkan situasi dengan memilah sampah langsung di TPS. “Masih banyak sampah plastik yang kami temukan di lapangan. Kemudian juga mungkin sekarang karena (harga plastik) naik ya, akhirnya juga pemulung memanfaatkan harga itu untuk memilah-milah di TPS,” pungkas M Fikser.***
- Penulis: Diagram Kota

>
>
Saat ini belum ada komentar