Halal Bihalal MAKI Jatim Bersama Pokja Djoko Dolog Dorong Media Jadi Penjaga Kebenaran dan Pengontrol Pemerintahan
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 17 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Halal bihalal selalu menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi saling memaafkan.
Pada Syawal 2026 ini, kehangatan itu terasa begitu kuat di Vila Sabar PTPN Prigen, Pasuruan sebuah ruang yang tidak hanya mempertemukan insan-insan dalam ikatan silaturahmi, tetapi juga menyatukan tekad untuk menjaga arah perjalanan publik yang lebih bersih dan berkeadilan.
Di tengah suasana penuh kekhidmatan, jajaran Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur bersama Pokja Djoko Dolog hadir bukan sekadar untuk merayakan kemenangan setelah Ramadhan.
Mereka membawa semangat baru semangat untuk menguatkan peran media sebagai penjaga nurani publik.
Momentum ini menjadi lebih dari sekadar pertemuan tahunan. Ia menjelma menjadi titik konsolidasi, tempat lahirnya gagasan dan keberanian untuk memastikan bahwa informasi yang beredar di tengah masyarakat tidak hanya cepat, tetapi juga benar, jernih, dan bertanggung jawab.
Pada kesempatan yang sangat berbahagia Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Estianto Dardak turut mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin “Mohon Maaf Lahir dan Batin” lewat voice note kepada keluarga besar MAKI Jatim dan group Pokja Djoko Dolog yang hadir diacara halal bihalal.
Heru Satriyo ketua MAKI Jatim menyampaikan harapan yang sederhana namun sarat makna: agar Pokja Djoko Dolog mampu menjadi “TOA” bagi publik.
Sebuah metafora yang kuat bukan hanya sebagai pengeras suara, tetapi sebagai penjaga kejernihan informasi. Menyuarakan kebenaran, sekaligus berani menguji setiap kebijakan yang lahir dari ruang kekuasaan.
Baginya, dunia hari ini bukan lagi kekurangan informasi. Justru sebaliknya informasi melimpah, tetapi kejelasan sering kali menjadi barang langka. Di situlah media diuji: apakah ia berdiri sebagai penyeimbang, atau justru larut dalam arus tanpa arah.
Pesan itu mengalir tegas namun tetap humanis. Kritik, dalam pandangannya, bukan ancaman bagi pemerintah, melainkan cermin yang menjaga agar langkah tetap lurus. Pemerintahan yang sehat bukanlah yang sunyi dari kritik, melainkan yang berani mendengar dan memperbaiki diri.
Dari Pasuruan, gema itu meluas ke berbagai daerah di Jawa Timur. Di Jember dan sejumlah wilayah lainnya, benih-benih gerakan ini mulai tumbuh menjadi tanda bahwa masyarakat merindukan ruang yang jujur, independen, dan berani berpihak pada kebenaran.
Namun Heru juga mengingatkan, bahwa kekuatan media tidak boleh dibangun di atas sensasi. Kredibilitas lahir dari disiplin: memeriksa, mengkaji, dan memastikan setiap informasi memiliki pijakan yang kuat.
Karena pada akhirnya, kepercayaan publik adalah fondasi utama yang tidak boleh runtuh.
Halal bihalal ini pun menjadi simbol awal sebuah langkah bersama untuk membangun sinergi antara MAKI Jatim dan Pokja Joko Dolog. Bukan sekadar jaringan, tetapi ekosistem media yang berintegritas, yang tidak tunduk pada kepentingan sesaat.
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mereka memilih untuk berdiri tegak: menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan pengawasan, antara kebijakan dan kepentingan rakyat.
Dan dari ruang sederhana di Prigen itu, sebuah pesan menguat bahwa media bukan hanya penyampai berita. Ia adalah penjaga kebenaran.
Ia adalah suara yang memastikan bahwa kekuasaan tidak berjalan sendirian, melainkan selalu diawasi, demi satu tujuan: keadilan bagi masyarakat. (Dk/Nns)
- Penulis: Teguh Priyono

>
>