“Dandan Kampung”, DPRD Surabaya: Pendekatan Partisipatif dalam Pembangunan Kota
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Program “Dandan Kampung” di Kota Surabaya menjadi salah satu inisiatif yang menarik perhatian masyarakat dan kalangan akademisi. Program ini tidak hanya berfokus pada perbaikan estetika lingkungan, tetapi juga memperkuat partisipasi warga dalam proses penataan kawasan. Dengan pendekatan yang melibatkan berbagai pihak, program ini menciptakan ekosistem pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Membangun Lingkungan yang Lebih Baik
Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, menjelaskan bahwa program “Dandan Kampung” dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih layak huni. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada perbaikan fisik kawasan, tetapi juga pada bagaimana warga ikut serta dalam proses perencanaan dan pelaksanaan.
“Dandan Kampung bukan hanya soal estetika, tetapi bagaimana warga ikut berpartisipasi membangun kampungnya menjadi lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah, dan komunitas warga. Fokus penataan mencakup peningkatan kualitas hunian, optimalisasi ruang publik, hingga penguatan identitas kawasan.
Keterlibatan Mahasiswa dan Warga dalam Proses Perencanaan
Salah satu aspek penting dari program ini adalah keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Mahasiswa arsitektur, perencanaan wilayah, teknik sipil, hingga komunikasi turut berkontribusi dalam membantu masyarakat merancang lingkungan yang lebih baik.
Eri mengungkapkan bahwa partisipasi ini sangat nyata di lapangan. Warga aktif menyampaikan aspirasi melalui forum-forum diskusi di tingkat kampung, sementara mahasiswa memberikan masukan berdasarkan pemahaman mereka tentang isu perkotaan.
“Saya melihat kolaborasi yang luar biasa, mulai dari mahasiswa arsitektur, perencanaan wilayah, teknik sipil, hingga komunikasi. Ini membangun ekosistem yang peduli pada isu perkotaan,” jelasnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Penataan Kampung
Selain dampak sosial, program ini juga memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Penataan kampung tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai aset warga dan membuka peluang usaha berbasis komunitas, termasuk UMKM.
“Ketika lingkungan membaik, aktivitas ekonomi lokal ikut tumbuh. Ini dampak nyata yang dirasakan masyarakat,” tambah Eri.
Menurutnya, penataan kampung juga berkontribusi pada pengurangan kawasan kumuh, serta penciptaan kota yang lebih layak huni dan inklusif. Hal ini menunjukkan bahwa kampung tidak lagi dianggap sebagai masalah, tetapi justru sebagai aset sosial, budaya, dan ekonomi yang harus diperkuat.
Pendekatan Pembangunan Berbasis Komunitas
Eri menilai “Dandan Kampung” mencerminkan pendekatan pembangunan berbasis komunitas (community-based development) yang menjadi praktik penting dalam pembangunan kota berkelanjutan. Pendekatan ini juga menandai perubahan cara pandang terhadap kampung dalam tata kota.
“Kota tidak hanya tumbuh dari proyek besar, tetapi dari intervensi kecil yang konsisten dan berbasis kebutuhan warga,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa jika dijalankan secara konsisten, program ini berpotensi menjadi model urbanisme partisipatif khas Surabaya yang relevan diterapkan di kota-kota berkembang.
“Ke depan, kemajuan kota tidak menghapus kampung, tetapi tumbuh bersama. Dari gang-gang kecil inilah kehidupan kota sebenarnya terbentuk,” pungkasnya.***

>
>
Saat ini belum ada komentar