Kritik Trump terhadap NATO dalam Konteks Perang di Selat Hormuz
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan kekesalannya terhadap aliansi militer NATO yang menolak tawaran bantuan untuk membuka kembali jalur laut penting di Selat Hormuz. Menurutnya, langkah yang diambil oleh negara-negara anggota aliansi tersebut merupakan kesalahan besar dan tidak sejalan dengan kepentingan AS.
Trump menyampaikan pernyataannya saat menjamu Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin di Ruang Oval Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa selama ini ia mempertanyakan relevansi NATO sebagai sekutu yang bisa diandalkan. “Saya pikir NATO melakukan kesalahan yang sangat bodoh,” ujar Trump kepada para jurnalis. Pernyataan ini menjadi bukti bahwa hubungan antara AS dan NATO semakin memanas, terlebih setelah beberapa negara anggota menolak permintaan bantuan Washington.
Penolakan dari Sekutu NATO
Beberapa negara anggota NATO, termasuk Prancis dan Inggris, secara resmi menolak permintaan bantuan untuk mengamankan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan ikut dalam operasi tersebut sampai situasi lebih tenang. Sementara itu, PM Inggris Keir Starmer juga tidak memberikan dukungan penuh terhadap rencana AS.
Trump menilai tindakan negara-negara tersebut sebagai tindakan tidak kooperatif. Ia menekankan bahwa AS tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun, bahkan dari negara-negara yang selama ini dianggap sebagai sekutu. “Kita tidak membutuhkan terlalu banyak bantuan. Kita tidak membutuhkan bantuan apa pun,” katanya.
Kepedulian Trump terhadap Program Nuklir Iran
Selain masalah Selat Hormuz, Trump juga menyoroti isu program nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa republik Islam tersebut harus dihadapi terkait ancaman yang ditimbulkan dari program tersebut. Meski demikian, ia tetap bersikeras bahwa AS mampu bertindak sendiri tanpa bantuan dari negara-negara lain.
Trump juga mengkritik sejumlah negara seperti Jepang, Australia, dan Korea Selatan yang tidak ingin terlibat dalam operasi militer di wilayah tersebut. Ia menyebut aliansi NATO sebagai “jalan satu arah” karena tidak memberikan dukungan yang cukup.
Tantangan dalam Hubungan AS-NATO
Sejak kembali berkuasa pada Januari 2025, Trump telah lama mengkritik NATO. Ia sering menekankan bahwa negara-negara anggota harus meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka agar bisa lebih mandiri. Namun, dalam situasi saat ini, ia tampaknya lebih fokus pada keputusan politik yang diambil oleh negara-negara anggota.
Pertanyaan tentang apakah AS akan mempertimbangkan kembali hubungan dengan NATO masih terbuka. Trump mengatakan bahwa hal itu “tentu saja sesuatu yang harus kita pikirkan”, tetapi ia belum memiliki rencana konkret. “Saat ini saya belum memikirkan apa pun,” tambahnya.
Dinamika di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik penting bagi pasokan minyak global. Seperlima dari minyak mentah dunia melalui jalur ini, sehingga stabilitas di wilayah tersebut sangat krusial. Iran telah menargetkan fasilitas energi negara-negara tetangganya dan mengancam kapal-kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Hal ini memicu ketegangan yang semakin memburuk.
Meski beberapa negara seperti Prancis dan Inggris menyatakan kesiapan untuk membantu, mereka menegaskan bahwa partisipasi hanya akan dilakukan jika situasi membaik. Ini membuat AS semakin merasa ditinggalkan oleh sekutunya dalam menghadapi ancaman dari Iran.
Komentar Politikus Terkait
Trump tidak hanya mengkritik NATO, tetapi juga menyentil beberapa pemimpin negara lain. Ia menilai PM Inggris Keir Starmer tidak mendukung AS dalam isu ini, sementara Presiden Prancis Macron disebut akan segera mundur dari jabatannya. Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump terus memperkuat posisi otoritasnya dalam menangani masalah internasional.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar