Inovasi Pertanian Berkelanjutan di Bojonegoro: Teknologi Biochar Mengubah Kehidupan Petani
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Biochar, atau arang hayati berpori mikro, kini menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kesuburan tanah dan memperkuat pertanian berkelanjutan. Di Desa Banjaran, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, para petani mulai mengadopsi teknologi ini sebagai bagian dari upaya pemerintah dan organisasi nirlaba dalam mendorong pengelolaan lahan yang ramah lingkungan.
Apa Itu Biochar dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Biochar adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses pirolisis limbah pertanian seperti jerami, kayu, atau limbah pertanian lainnya. Proses ini menciptakan struktur pori-pori yang dapat menyerap air dan nutrisi, sehingga meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan unsur hara. Selain itu, biochar juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menyerap karbon selama proses pembuatannya.
Menurut Riefna Rahmanda, Direktur Yayasan Agathis Dammara (AdaKarbon), biochar tidak hanya berfungsi sebagai pembenah tanah tetapi juga harus diaktivasi sebelum digunakan. “Aktivasi dilakukan dengan cara menggabungkan biochar dengan bahan organik seperti kompos atau pupuk hayati agar bisa berfungsi optimal dalam tanah,” jelasnya.
Penerapan Biochar di Lahan Petani Lokal
Salah satu petani yang telah menerapkan biochar adalah Saifudin, yang memiliki lahan kangkung seluas ±500 meter persegi. Ia mengaku bahwa hasil panen setelah menggunakan biochar lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Saya merasa dengan pendampingan dan penerapan biochar, hasilnya lebih bagus,” ujarnya.
Pendampingan oleh Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS) memastikan bahwa petani memahami langkah-langkah penerapan biochar secara benar, mulai dari persiapan lahan hingga evaluasi hasil panen. Program ini juga memberikan pelatihan tentang pengelolaan lahan secara berkelanjutan, sehingga petani tidak hanya mengandalkan produk tetapi juga meningkatkan kapasitas diri mereka.
Dukungan Pemerintah dan Masyarakat Lokal
Kegiatan Farmer Field Day (FFD) bertema “Transformasi Pertanian Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Biochar” dihadiri sekitar 96 petani Desa Banjaran. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, S.Pi., MP. Ia menyambut baik kegiatan ini karena dianggap sebagai inovasi dalam pengelolaan lahan yang bisa menjadi sarana pembelajaran bagi petani.
“Kegiatan ini dapat mendorong peningkatan kesuburan tanah, produktivitas, dan kesejahteraan petani,” tambahnya.
Selain itu, Kepala Desa Monder juga menyampaikan dukungan terhadap program ini. Menurutnya, penerapan biochar bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam sistem pertanian lokal.
Pelatihan dan Transfer Pengetahuan kepada Petani
Sejak 2024, sebanyak 799 petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah terlibat dalam program pendampingan penerapan biochar. Program ini tidak hanya fokus pada penggunaan produk, tetapi juga pada peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan lahan secara berkelanjutan.
Demonstrasi aktivasi biochar oleh tim AdaKarbon, WasteX, dan YBTS menjadi bagian penting dari transfer pengetahuan tersebut. Para petani diajarkan bagaimana mengaktifkan biochar agar bisa berfungsi optimal dalam tanah.
Potensi Besar Biochar untuk Masa Depan Pertanian
Dengan dukungan berbagai pihak, penerapan biochar diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat praktik pertanian berkelanjutan. Selain manfaat ekonomi bagi petani, biochar juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kesuburan tanah.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar