China memasuki persaingan pengembangan pusat data berbasis luar angkasa dengan rencana 5 tahun
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Rencana Ambisius China untuk Pusat Data Berbasis Luar Angkasa
DIAGRAMKOTA.COM – China sedang melakukan kemajuan signifikan dalam upaya eksplorasi luar angkasanya, dengan rencana lima tahun baru yang mencakup pengembangan pusat data berbasis luar angkasa. Inisiatif ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat kehadiran negara di luar angkasa dan memenuhi permintaan yang terus meningkat akan daya komputasi dan penyimpanan data.
Jaringan Televisi Global China (CGTN) yang dikelola negara melaporkan bahwa China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), perusahaan antariksa utama China, akan fokus pada pengembangan pusat data berbasis antariksa ini. Rencana tersebut juga mencakup upaya untuk memperluas pengembangan sumber daya, seperti penambangan asteroid, dan pemantauan sampah antariksa. Selain itu, rencana ini bertujuan untuk meningkatkan pariwisata antariksa, menunjukkan pendekatan komprehensif dalam eksplorasi antariksa.
Perkembangan Pusat Data Berbasis Luar Angkasa
Konsep pusat data berbasis luar angkasa semakin populer seiring perusahaan berusaha mengatasi keterbatasan pusat data di darat. Dengan perluasan cepat pusat data yang digunakan untuk mendukung kecerdasan buatan dan teknologi canggih lainnya, terdapat kebutuhan yang semakin besar akan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Perusahaan-perusahaan AS juga sedang menjajaki kemungkinan meluncurkan pusat data ke luar angkasa. Misalnya, SpaceX milik Elon Musk berencana meluncurkan pusat data berbasis luar angkasa, awalnya menggunakan versi modifikasi dari satelit broadband Starlink. Visi jangka panjangnya mencakup pembangunan pabrik satelit kecerdasan buatan di bulan, yang akan diluncurkan dari
Permukaan bulan melalui senjata rel.
Axiom Space, yang berbasis di Houston, telah meluncurkan komponen pertama untuk pusat data orbitnya, sementara Google sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan pusat data guna mendukung infrastruktur kecerdasan buatan (AI) miliknya. Alasan di balik pergeseran ini adalah kelimpahan tenaga surya dan ruang di luar angkasa, yang menjadikannya alternatif menarik dibandingkan solusi berbasis Bumi.
Menghadapi Tantangan dan Peluang
Pengembangan pusat data berbasis luar angkasa menghadirkan tantangan dan peluang. Salah satu kekhawatiran utama adalah masalah sampah antariksa, yang membahayakan satelit dan aset antariksa lainnya. Badan Antariksa Eropa (ESA) telah aktif meneliti cara-cara untuk mengatasi masalah ini, menekankan pentingnya melindungi infrastruktur kritis di ruang angkasa.
Dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, sebuah panel mendiskusikan kebutuhan untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi, seperti infrastruktur internet, dilindungi dengan baik. Diskusi tersebut menyoroti kesenjangan antara laju inovasi teknologi yang cepat dan perkembangan langkah-langkah keamanan yang lebih lambat.
Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
Seiring dengan investasi negara-negara seperti China dan Amerika Serikat dalam eksplorasi luar angkasa, persaingan untuk pusat data berbasis luar angkasa semakin intensif. Tren ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara kita memandang teknologi dan infrastruktur, dengan luar angkasa menawarkan kemungkinan baru untuk inovasi dan pertumbuhan.
Masa depan eksplorasi antariksa kemungkinan besar akan dibentuk oleh kolaborasi dan persaingan, seiring dengan upaya negara-negara untuk memperkuat kehadiran mereka di alam semesta. Dengan kemajuan teknologi dan pemahaman yang semakin mendalam tentang tantangan yang terlibat, impian tentang pusat data berbasis antariksa mungkin segera menjadi kenyataan.***

>

Saat ini belum ada komentar