Tensi Tinggi di Iran: Serangan Terhadap Ali Khamenei Ancaman Perang dan Kekacauan Politik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Tensi antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat, dengan ancaman perang yang disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai pernyataan perang terhadap rakyat Iran. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi bahwa mantan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan tindakan keras terhadap pemimpin Iran.
Pezeshkian mengkritik pemerintah AS atas krisis yang terjadi di Iran, termasuk protes yang berlangsung selama dua minggu terakhir. Ia menyalahkan sanksi yang diberlakukan oleh AS dan sekutunya sebagai penyebab kesulitan ekonomi yang dialami rakyat Iran. “Jika ada kesulitan dalam kehidupan warga Iran, salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksukaan lama dan sanksi tidak manusiawi dari pemerintah AS dan aliansinya,” ujarnya.
Trump, dalam wawancaranya dengan Politico, menyatakan bahwa ia ingin mengakhiri masa pemerintahan Khamenei yang telah berlangsung selama hampir 40 tahun. Ia menyebut Khamenei sebagai “orang sakit” yang seharusnya menjalankan negara dengan baik dan berhenti membunuh orang-orang.
Protes yang awalnya dimulai pada 28 Desember karena keluhan terhadap inflasi tinggi dan mata uang yang melemah, berubah menjadi demonstrasi anti-pemerintah yang meminta perubahan rezim. Pada 8 Januari, pemerintah Iran melakukan pembatasan layanan internet dan telepon untuk membatasi komunikasi dan mengurangi penyebaran informasi.
Trump memberi dukungan kepada para demonstran, meminta mereka untuk “mengambil alih institusi mereka” dan menjanjikan bantuan. Namun, rencana serangan militer AS terhadap Iran dibatalkan karena tekanan regional dan diplomatik.
Dalam sebuah pernyataan media sosial, Trump mengucapkan terima kasih kepada pemimpin Tehran, mengklaim bahwa mereka telah membatalkan eksekusi terhadap 800 orang, termasuk Erfan Soltani, seorang demonstran yang ditangkap dan dijadwalkan dieksekusi. Keluarga Soltani mengungkapkan kekhawatiran tentang kondisi tahanannya, termasuk adanya penganiayaan dan kurangnya perawatan medis.
Khamenei mengakui pertama kali bahwa ribuan orang telah tewas dalam protes, menyalahkan AS atas kematian tersebut. Ia menyebut Trump sebagai “kriminal” karena mendukung demonstrasi dan meminta hukuman yang lebih keras terhadap para demonstran.
Beberapa akses internet kembali pulih di Iran, meskipun masih terbatas. Wilayah Kurdistan di bagian utara Iran menjadi tempat terparah dari konflik, dengan jumlah korban tertinggi. Organisasi hak asasi manusia melaporkan 24.348 demonstran ditangkap selama penindasan.
Di tengah situasi ini, protes tidak lagi dilaporkan di Iran, namun beberapa warga tetap mengeluarkan slogan anti-Khamenei dari jendela rumah mereka. Mereka berharap perhatian internasional dapat membantu para tahanan dan memperbaiki kondisi penahanan.***

>

Saat ini belum ada komentar