Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Pedagang Ikan di Pasar Pabean Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur, khususnya wilayah Surabaya, telah memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas perdagangan ikan di Pasar Pabean. Para pedagang mengeluhkan penurunan pendapatan hingga 50% akibat gangguan pasokan dan fluktuasi harga komoditas laut.
Penyebab Utama Kekhawatiran Pedagang
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara berkala memberikan peringatan tentang gelombang tinggi dan cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu kegiatan nelayan. Gelombang dengan ketinggian hingga empat meter diprediksi akan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Hal ini memicu kekhawatiran para nelayan dan pedagang ikan, karena kondisi tersebut menyulitkan aktivitas penangkapan ikan dan pengiriman hasil tangkapan ke pasar.
Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin kencang, dan hujan es. Fenomena alam ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga akhir Januari 2026. Kecepatan angin yang meningkat drastis, mencapai 32 knot, juga menjadi ancaman bagi infrastruktur dan keselamatan masyarakat.
Perubahan Harga dan Stok Ikan
Huda, salah satu pedagang ikan di Pasar Pabean, menjelaskan bahwa cuaca buruk memengaruhi stok dan harga ikan. Contohnya, cumi yang biasanya dijual antara Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp95-100 ribu per kilogram. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pasokan dan permintaan yang tinggi.
Ikan kembung atau banyar juga mengalami kenaikan harga, dari Rp25 ribu per kilogram menjadi Rp35 ribu per kilogram. Stok yang menipis membuat pedagang terpaksa menggunakan ikan beku sebagai alternatif. Meskipun kualitasnya sama, harga ikan beku lebih murah dibandingkan ikan segar.
Sumber Pasokan Ikan yang Terbatas
Huda mengungkapkan bahwa mayoritas ikan yang dijual berasal dari nelayan di laut lepas, termasuk daerah seperti Rembang, Probolinggo, dan Madura. Namun, kondisi cuaca ekstrem menyebabkan nelayan kesulitan dalam melaut, sehingga pasokan ikan menjadi tidak stabil.
“Kami sering kali harus membeli ikan beku karena stok segar terbatas,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap berharap situasi cuaca buruk dapat segera mereda agar aktivitas perdagangan bisa kembali normal.
Dampak pada Pendapatan Harian
Dampak cuaca ekstrem terasa sangat nyata bagi para pedagang. Huda menyebutkan bahwa pendapatan harian mereka turun drastis, dari rata-rata Rp8 juta per hari menjadi hanya Rp3-5 juta. Meski tidak sedang musim purnama, angin dan cuaca yang tidak bersahabat tetap memengaruhi permintaan pasar.
Tantangan dan Harapan
Para pedagang mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah dan instansi terkait untuk mengatasi masalah ini. Termasuk dalam hal memperbaiki infrastruktur dan memberikan informasi cuaca yang lebih akurat agar nelayan bisa lebih siap dalam melaut.
Dengan kondisi yang semakin tidak pasti, pedagang ikan di Pasar Pabean Surabaya terus berupaya bertahan sambil menunggu cuaca yang lebih baik. Mereka berharap keadaan akan kembali stabil, sehingga aktivitas ekonomi bisa pulih dan kembali menghasilkan pendapatan yang layak. ***

>

Saat ini belum ada komentar