Pendidikan Digital di SMPN 2 Tegalombo Pacitan: Membentuk Generasi Berpikir Komputasional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Sekolah menengah pertama (SMP) di Indonesia semakin berupaya untuk memperkuat keterampilan siswa dalam menghadapi tantangan era digital. Salah satunya adalah SMPN 2 Tegalombo, yang berada di Kabupaten Pacitan. Sekolah ini telah mengambil langkah strategis dengan mengintegrasikan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) ke dalam kurikulum Informatika. Tujuannya adalah untuk membentuk generasi muda yang memiliki literasi teknologi yang kuat.
Fokus pada Keterampilan Berpikir Komputasional
Pembelajaran coding dan AI di SMPN 2 Tegalombo tidak hanya tentang mengajar siswa cara menulis kode atau menggunakan alat AI. Lebih dari itu, fokus utamanya adalah melatih siswa dalam berpikir komputasional. Hal ini mencakup kemampuan memecahkan masalah besar dengan membaginya menjadi bagian-bagian kecil, serta mengembangkan logika dan sistematisasi dalam pemecahan masalah.
Kepala Sekolah SMPN 2 Tegalombo, Subroto, menjelaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah untuk membangun cara berpikir yang logis, sistematis, dan kreatif. “Kami tidak sedang mencetak programmer cilik,” ujarnya. “Yang kami bangun adalah cara berpikir. Siswa harus mampu berpikir logis, sistematis, kreatif, dan tetap beretika dalam menggunakan teknologi.”
Pengalaman Belajar yang Dinamis dan Interaktif
Dalam praktiknya, proses belajar coding dan AI dilakukan secara interaktif. Ruang Laboratorium IPA yang biasanya digunakan untuk praktikum sains, kini berubah menjadi ruang belajar teknologi bagi siswa kelas IX A. Guru Informatika, Hanif Mutaffidin, yang baru saja menyelesaikan pelatihan coding, langsung menerapkannya kepada para siswa.
Di kelas, suasana terasa aktif. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun logika pemrograman dasar, mencoba, salah, lalu memperbaiki. Menurut Hanif, ada tiga fokus utama dalam pembelajaran coding yang diterapkan di kelas. Pertama, melatih berpikir komputasional dengan membiasakan siswa memecah persoalan besar menjadi bagian-bagian kecil. Kedua, mengasah kemampuan pemecahan masalah, termasuk membangun mental pantang menyerah saat menghadapi kesalahan teknis. Ketiga, mengenalkan teknologi modern sekaligus melatih kolaborasi melalui kerja tim.
“Anak-anak justru menikmati prosesnya. Coding tidak mereka anggap sulit, tapi sebagai cara baru untuk berekspresi dan mencari solusi,” ujar Hanif.
Integrasi Teknologi dalam Kurikulum
SMPN 2 Tegalombo tidak menjadikan coding dan AI sebagai mata pelajaran baru. Keduanya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Informatika. Strategi ini dipilih agar siswa tidak terbebani, tetapi tetap memahami keterkaitan antara teori dan praktik teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan ini, sekolah berharap dapat melahirkan generasi yang bersaing di era digital tanpa kehilangan nilai etika dan karakter. Program ini juga bertujuan untuk memberikan siswa wawasan yang lebih luas tentang peran teknologi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Peran Edukasi dalam Transformasi Digital
Transformasi digital tidak hanya berdampak pada dunia kerja, tetapi juga pada pendidikan. Dengan adanya program seperti ini, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan. Mereka tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Program ini juga menjadi contoh bagaimana sekolah dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan memperkenalkan coding dan AI di lingkungan pendidikan, siswa diharapkan mampu berpikir kritis dan inovatif, serta memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar