Peran Teknologi AI dalam Perekonomian Singapura
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Singapura terus memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi teknologi di kawasan Asia Tenggara. Dalam pidato anggaran yang disampaikan pada 12 Februari 2026, Perdana Menteri Lawrence Wong menekankan pentingnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat strategis untuk menghadapi tantangan struktural negara, seperti keterbatasan sumber daya alam, populasi yang menua, dan pasar tenaga kerja yang ketat. Ia menilai bahwa AI dapat menjadi kunci untuk memperkuat ekonomi negara dan meningkatkan produktivitas.
Inisiatif Pemerintah Singapura dalam Pengembangan AI
Pemerintah Singapura telah merancang sejumlah inisiatif untuk mempercepat adopsi AI di berbagai sektor. Salah satunya adalah pembentukan dewan AI nasional yang akan dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Wong. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa dewan ini akan mengawasi pelaksanaan “misi AI nasional” di empat bidang utama, yaitu manufaktur canggih, koneksi digital, keuangan, dan kesehatan.
Selain itu, pemerintah juga akan membangun taman AI baru di kawasan one-north, serta memberikan insentif pajak tambahan bagi perusahaan yang ingin menerapkan AI. Sebagai bagian dari program tersebut, warga Singapura yang mengikuti kursus AI akan mendapatkan akses gratis selama enam bulan ke layanan AI premium.
Perusahaan Swasta sebagai Contoh dalam Penerapan AI
Perdana Menteri Wong menyoroti dua perusahaan besar Singapura sebagai contoh sukses dalam penerapan AI, yaitu DBS dan Grab. Keduanya dinilai sebagai pemimpin dalam transformasi digital dan penggunaan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan layanan pelanggan.
Grab: Transformasi Digital dengan AI
Grab, platform transportasi dan layanan pesan makanan terbesar di Asia Tenggara, telah menerapkan AI secara luas dalam berbagai layanannya. Contohnya, AI digunakan untuk menerjemahkan menu restoran secara otomatis dalam aplikasi pesan makanan, sehingga memudahkan pelanggan yang bepergian ke luar negeri.
Dalam rapat umum dengan analis pada 12 Februari, Alex Hungate, COO Grab, menjelaskan bahwa model AI internal perusahaan kini mengatur 90% permintaan mobil untuk layanan taksi. Grab juga aktif dalam pengembangan kendaraan otonom, termasuk kolaborasi dengan perusahaan seperti May Mobility dan Momenta, serta akuisisi startup Infermove yang fokus pada robot pengantar barang.
Meski berhasil mencatatkan laba bersih pertama dalam sejarahnya, Grab memproyeksikan pendapatan tahun depan lebih rendah dari ekspektasi. Harga saham Grab di NASDAQ turun sekitar 15,9% sepanjang tahun ini.
DBS: Integrasi AI dalam Layanan Keuangan
DBS, bank terbesar di Asia Tenggara berdasarkan aset, juga aktif dalam menerapkan AI dalam operasional dan pengalaman pelanggan. CEO DBS, Tan Su Shan, mengungkapkan bahwa ia sendiri pernah menggunakan AI untuk penelitian darurat sebelum rapat dengan klien.
Bank ini telah mengembangkan “co-pilot” AI untuk staf layanan pelanggan, serta platform DBS-GPT yang membantu karyawan dalam menulis konten dan menyusun informasi. Selain itu, DBS juga melakukan pelatihan khusus bagi lebih dari 11.000 karyawan yang bisa diuntungkan oleh AI.
DBS juga mulai memindahkan karyawan ke peran baru seperti evaluator AI dan monitor agen yang memantau percakapan antara pelanggan dan chatbot DBS Joy. Meski pendapatan DBS mencapai rekor 22,9 miliar dolar Singapura pada 2025, laba bersihnya turun 3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Visi Singapura sebagai Negara Berbasis AI
Sejak 2019, Singapura telah mengeluarkan strategi AI yang bertujuan untuk menerapkannya di berbagai sektor, termasuk transportasi, logistik, kesehatan, pendidikan, dan keamanan nasional. Pemerintah juga bekerja sama dengan lebih dari 60 perusahaan teknologi global seperti Google dan Microsoft untuk membangun pusat keahlian AI di seluruh negeri.
Dalam anggaran 2026, pemerintah akan meluncurkan program “Champions of AI” untuk mendukung transformasi perusahaan yang ingin mengadopsi AI. Program “TechSkills Accelerator” juga diperluas agar pekerja non-teknis bisa beralih ke peran di bidang AI.***

>
>
>
Saat ini belum ada komentar